Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Saya dan Buku

buku

Saya akhirnya punya cukup waktu untuk mengurusi toko buku kecil di rumah sejak adanya kebijakan kerja dari rumah. Belum layak sih disebut toko buku, bukunya baru memenuhi satu rak buku tiga tingkat. Ada sekitar dua ratusan buku dengan berbagai judul yang siap dijual secara online. Paling banyak masih genre komik, ya komik islam.

Sampai larut malam menata catatan buku, memfoto yang belum ada di rak buku online, memberi deskripsi sekedarnya, menimbang beratnya dan mengatur jasa pengirimannya. Menjelang tidur, untuk kesekian kalinya istri menyampaikan untuk menyudahi saja jualan buku. Mungkin dilihatnya saya masih kurang serius mengurusi pekerjaan sampingan tersebut sehingga membuat penjualan buku tidak cukup signifikan. Ia juga menganggap buku akan sampai kepada masanya, hilang seperti kebanyakan media cetak yang ada.

Saya kemudian menyampaikan bahwa saya ingin tetap jualan buku demi merawat kenangan bersama buku. Buku adalah sahabat terbaik saya di setiap waktu. Aroma kertasnya selalu menggoda. Amat memesona ketika melihatnya berbaris rapi di rak buku. Sejak kecil saya sangat mencintai buku. Akan jadi hari raya bagi saya apabila diajak Papa ke toko buku besar di kota. Semua buku yang menarik akan saya minta ke Papa untuk dibeli. Mulai dari buku cerita daerah, novel, sejarah dan apapun yang menarik hati saya, bahkan buku tentang cara mengetik di mesin ketik dengan sepuluh jari pun pernah saya minta. Di sekolah juga kala itu tersedia perpustakaan, ketika anak-anak lain pergi bermain saya kerap memilih pergi ke perpustakaan dan tak jarang meminjamnya untuk dibawa pulang apabila tidak cukup waktu dibaca ketika di sekolah.

Pada masa kebangkrutan Papa, ketika itu saya sudah sekolah di kota, saya pun tetap mencintai buku. Kalau bisa menyisihkan uang jajan, saya akan membeli buku, tapi kalau tidak ada yang bisa disisihkan saya tidak kehilangan akal. Membaca gratis di toko buku menjadi pilihan selanjutnya. Di luar jam sekolah, saya juga sempat menjalani profesi sebagai tukang koran dan majalah. Menjajakannya di meja kecil dari triplex ukuran semeter kali setengah meteran di depan restoran padang, Rumah Makan Pagi Sore. Selain mendapat bayaran, saya juga jadi dapat bahan bacaan gratis. Ya, itulah sepenggalan kisah saya dan buku.

Berapa tahun terakhir minat literasi masyarakat memang seperti menurun. Apalagi di era digital yang makin berkembang seperti sekarang ini. Tak salah juga anggapan istri saya tadi. Penghargaan atas karya cetak pun sangat mengkhawatirkan. Di tengah permasalahan karya bajakan yang makin mengganas muncul permasalahan baru, karya bajakan kemudian bertransformasi dari bentuk cetakan ke bentuk digital. Ada sebuah tabloid olahraga yang cukup besar dan terkenal akhirnya memutuskan untuk tidak lagi terbit tahun 2018 silam karena berbagai alasan. Menurut saya pribadi, salah satunya disebabkan adanya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan versi digital dari tabloid tersebut secara rutin dan ironinya banyak yang kemudian berpindah hati menikmati barang ilegal tersebut. Hal seperti ini kadang membuat pesimis para penulis buku dan penggiat literasi lainnya.

Tapi, kemudian ada kutipan pada bagian prakata bukunya Mas Riza Almanfaluthi yang cukup menguatkan. Judul bukunya Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Beliau menyampaikan sebuah kesimpulan Fernando Baez dalam buku berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, “Akan ada generasi yang masih meluangkan waktu mereka buat membaca, tetapi bukan pemakai setia gawai seharga US$200 yang bisa mati sewaktu-waktu, habis baterai, kelewat panas, atau layarnya retak. Meski mungkin menggegerkan, saya rasa iPad atau Kindle hanyalah prototip yang tak lama lagi akan jadi masa lalu seperti halnya papirus.”

Saya dan buku akan tetap bersama sampai garis finish. Kamu juga kan?

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top