Hari Selasa kemarin, 6 April 2021. Saya dan sebagian rekan kerja sedang waswas menanti Surat Keputusan jabatan baru dengan tempat kerja baru, tempat berlabuh selanjutnya. Saya beberapa pekan terakhir sudah berusaha menyiapkan mental sebaik mungkin, hampir berkeyakinan penuh bahwa kali ini akan ditempatkan agak lebih jauh dari yang sebelumnya. Keyakinan ini diawali dengan diklat yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu, lokasi diklatnya jauh sekali dari wilayah kerja sekarang. Tidak seperti rekan-rekan saya yang mendapati wilayah diklat masih di pulau yang sama.
Jegeeer! Sekitar jam 14.30 di hari Selasa itu SK yang dinanti keluar juga. Meski sedang selimutan karena meriang, saya telusuri SK tersebut, menemukan nama saya dan voila! saya ternyata tetap di kantor lama. Saya panggil istri, sekadar memastikan bahwa yang saya lihat betul, bukan halusinasi karena bawaan badan yang sedang tidak sehat. Dan lagi, menurut keputusan terakhir direktur, formasi untuk jabatan yang akan saya ampu tidak ada di kantor saya sekarang. Tapi, nyatanya yang terjadi justru saya ditempatkan di kantor yang sama. Saya dan rekan-rekan yang lain terheran-heran. Tapi, kemudian saya memaklumi dan menganggap ini sebagai keajaiban doa dan sedekah.
Untuk bagian doa, saya dapat nyatakan bahwa saya lemah di sini, saya seringnya kurang sungguh-sungguh di dalam berdoa. Kemudian yang saya lakukan adalah nebeng doa kepada orang tua, istri, anak, saudara dan kawan-kawan. Dan saya yakin bahwa ada salah satu doa dari mereka yang kemudian didengar oleh Allah. Bisa jadi salah satunya doa dari anak-anak, ketika istri mengabarkan kepada Si Sulung di pesantren bahwa Abi-nya tetap di kantor yang lama, ia lantas menyambut senang dan menyampaikan bahwa setiap selepas salat ia selalu mendoakan agar Abi-nya tetap di kantor lama saja dulu.
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ
“Tidak ada yang dapat menolak takdir ketentuan Allah selain doa. Dan tidak ada yang dapat menambah umur seseorang selain perbuatan baik.” (HR. At-Tirmidzi)
Untuk bagian sedekah, dalam beberapa bulan terakhir saya berusaha menguatkan dan meningkatkan. Peluang untuk beramal sekarang mudah ditemukan dimana-mana, terbuka sangat lebar. Dari orang yang terdekat dulu misalnya, orang tua. Kita yang kadang terlupa berbagi dengan orang tua, mulai bisa melazimkan lagi berbagi dengan orang tua meskipun mereka tidak meminta. Selain itu, kita bisa menyalurkan sedekah kita melalui lembaga terpercaya seperti salah satunya yang sedang mereka kampanyekan saat ini, Mushaf untuk Afrika. Berikut saya kutip informasinya,
“Di tengah keterbatasan, para santri di Afrika ini sungguh rajin membaca dan menghafal Al-Qur’an namun mereka tak memiliki mushaf yang layak, tidak hanya mereka yang berusia muda tetapi juga para orang tua paruh baya.
Mushaf-mushaf mereka sudah sangat lusuh dan terpisah lembaran-lembarannya. Itupun, harus digunakan bergantian oleh beberapa orang karena jumlahnya yang tak banyak.
Masih banyak juga di antara mereka yang hanya belajar Al-Qur’an dari mushaf berbahan papan kayu.”
Saya benar-benar tidak menyangka ada pemandangan mengharukan seperti ini di dunia. Sementara, di sebagian negeri islam al-Quran begitu berlimpah. Tidakkah kita tergugah untuk berbagi? Ingatlah salah satu wasiat Rasulullah ﷺ
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidaklah seorang hamba setiap harinya memasuki waktu pagi, melainkan terdapat dua malaikat yang turun, kemudian berkata salah satunya, “Ya, Allah. Berikanlah ganti bagi setiap orang yang berinfak.” Dan malaikat satunya berkata, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi siapa saja yang enggan berinfak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
