Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Kebebasan dalam Keterbatasan

Hati saya bergemuruh tidak keruan demi menyaksikan Renata, panggil saja begitu, memposting fotonya tanpa hijab. Bertahun lalu dia tersimpuh di hadapan Tuhan, berikrar tak lagi memamerkan apa yang tak berhak dipandang orang. Elok nampaknya, air mukanya pun bersih bercahaya. Namun, hari ini ia memilih menyerah. Saya tak begitu tahu alasannya tapi yang jelas keputusan itu diambilnya setelah satu tahun menuntut ilmu di luar negeri.

Bertahun sebelumnya, Laila, seorang ASN di sebuah kementerian memilih jalan serupa. Bahkan lebih jauh lagi wanita berjilbab lebar ini (ramai orang memanggilnya akhwat) akhirnya memilih meninggalkan Tuhan. Sepertinya ia begitu takjub dengan ‘insight’ dari orang-orang di sekitarnya ketika berkuliah di luar negeri.

Saya menduga Renata yang kutu buku ini juga sangat banyak mendapat ‘insight’ dari buku yang ia baca dan dari hasil diskusi dengan orang-orang di sekitarnya. Persis dengan Laila.

Sejujurnya, saya bukan siapa-siapa Renata ataupun Laila, saya hanya follower mereka. Dan bahkan mereka pun tidak follback saya, sedih ya ?

Kerap ada yang berujar, bahwa itu jalan hidup Renata dan Laila atau siapapun itu. Mereka bebas memilih jalan hidup mereka sendiri. Mungkin benar adanya bahkan Tuhan pun memberi kebebasan kepada manusia untuk berbuat apapun dan memilih apapun yang mereka inginkan. Tapi, sadarkah kita, bahwa kita memiliki keterbatasan yang berlimpah? Guru-guru saya sering berulangkali menyampaikan, bahkan matamu tak dapat melihat, telingamu tak jelas mendengar, apa yang ada di sebalik dinding walaupun jaraknya hanya sejengkal. Pengetahuanmu tak setitik pun bisa menandingi keluasan khazanah pengetahuan Allah ﷻ.

Dikutip dari biliksantri.com Abdullah Al Qasimi (Abdullah bin Ali An Najdi Al Qasimi) dikenal sebagai kritikus yang mampu mematahkan argumen para Atheis yang mencoba menyerang Islam dan meragukan keberadaan Allah ﷻ. Dirinya kemudian masuk pada jajaran ulama Kibar (besar) yang cukup dikenal. Kebanyakan bukunya berfokus pada pembelaan terhadap Islam dengan banyak menguasai bidang keilmuan lain.

Banyak orang kemudian memuji-mujinya, bahkan salah satu guru Al Qasimi, Syekh Shali Munajid (salah satu Imam Masjidil Haram) menulis pujian tertinggi di kata pengantar salah satu buku Abdullah Al Qasimi. Ia mengatakan Al Qasimi telah membayar mahar surga untuknya dengan tulisan ini. Maknanya Al Qasimi sudah layak masuk surga karena buku itu begitu indah dan bermanfaat di kalangan muslimin.

Namun pujian-pujian yang ia terima kemudian menghadirkan rasa sombong yang perlahan mulai nampak pada dirinya. Al Qasimi sering memasukkan puisi dan syair puisi berisi pujian untuk dirinya sendiri di sampul buku-buku karyanya.

Pada akhirnya Al Qasimi yang dulu membela Islam dan membantah para Atheis, justru berbalik arah menyerang agama yang dulu ia pegang dan bela. Tentu saja buku-buku dan tulisan Al Qasimi pasca keluar dari Islam dibantah dan diserang habis-habisan oleh para ulama lain yang masih berpegang teguh pada agama Islam.

Beberapa ulama lain juga sudah mencoba mengajak Al Qasimi untuk berdialog, namun ia masih begitu keras atas apa yang ia yakini. Ia telah melemparkan Islam yang selama ini ia bela dan teguh pada pendiriannya sebagai Atheis. Keyakinan ini juga yang ia bawa hingga meninggal karena kanker di Rumah Sakit ‘Ain Syams Kairo Mesir pada tanggal 1 September 1996.

Mudah saja ternyata bagi Allah ﷻ membalikkan keadaan kita dari manusia taat, menjadi manusia khianat. Patutlah dalam al-Quran diajarkan sebuah doa yang sangat penting,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran [3]: 8)

Dalam tafsir Ibnu Katsir atas ayat di atas, Bunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa doa yang sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ adalah sebagai berikut

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”

Jika Rasulullah ﷺ, Sang Kekasih Allah ﷻ saja begitu khawatir tentang hatinya yang tiba-tiba dapat Allah ﷻ balikkan kepada ketidaktaatan apatah lagi saya dan kita yang bukan siapa-siapa. Selayaknya lebih khawatir lagi akan keadaan diri.

Renata dan Laila bukan nama tokoh sebenarnya dalam tulisan ini. Namun, saya menemukan mereka di dalam kehidupan nyata. Dan hati saya tak berhenti bergemuruh demi mengingat jalan yang kini mereka tempuh. Saya meyakini bahwa saya pun tidak ada jaminan akan selamat. Tapi, sungguh hati saya bergemuruh sebab mencintai mereka sebagai muslim karena Allah ﷻ.

اِنَّا هَدَيۡنٰهُ السَّبِيۡلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا كَفُوۡرًا‏

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al Insan [76]: 3)

Renata, Laila, kembalilah…

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top