Selepas maghrib tak seperti biasanya Rusman langsung keluar masjid, duduk di pelatarannya dan memandang kosong ke langit. Sinar mukanya redup, seredup cahaya malam itu. Di antara magrib dan isya Rusman mendawamkan tilawah surat As-Sajadah dan Al-Mulk secara infiradi. Tapi, tidak kala itu.
“Man, ada apa?” kudekati Rusman seraya menepuk pelan bahunya.
“Bang, boleh aku menyerah sekarang? Aku tidak sanggup lagi.”
“Gimana maksudnya? Coba cerita,” aku coba memvalidasi ulang cerita yang sebenarnya pernah kudengar sekadarnya.
“Bang,” Rusman menarik nafas panjang.
“Abang tahu, kan? Dari lima bersaudara, aku satu-satunya yang belum berpenghasilan, dari lima bersaudara aku satu-satunya yang bukan qari, tak bisa ikut lomba-lomba MTQ kayak saudara yang lain, dan satu-satunya yang belum menikah padahal anak sulung.”
“Bang, aku disepelekan tidak hanya oleh Abak tapi juga oleh Omak. Meja makan seringkali jadi arena penghakiman atas semua hal yang mereka tidak suka dari aku, Bang.”
“Aku bahkan sampai lupa, kapan terakhir mereka memujiku, berterima kasih, memberi semangat, memberi senyum atau sekadar membiarkan acara makan bersama hening tanpa penghakiman,” suara Rusman mulai terdengar serak dan akhirnya tangis itu pecah juga.
Aku menarik nafas panjang. Kutepuk-tepuk bahunya, berharap agar Rusman kembali tenang. Sengaja kubiarkan, ia tumpahkan segala tangisnya hingga lelah.
“Man, kamu pasti tahu,” aku mulai bercerita dan Rusman menatapku agar melanjutkan kata.
“Aku sejak kecil tidak pernah bisa berenang dan itu benar-benar semacam aib bagi kita di kampung ini,” aku tersenyum getir.
“Setiap mendekati sungai, apalagi sampai masuk sungai, pasti ada yang memberitakan ke orang tua seketika itu. Bukan sekali bahkan hampir setiap kali. Dan bisa dipastikan setelah itu Ibu atau Bapak akan tergopoh-gopoh datang sambil membawa rotan untuk menghukumku,” aku menunduk.
“Sempat terpikir aku, Man. Kalau setiap warga sebenarnya sudah disogok oleh Ibu dan Bapak.”
Hening sejenak, terdengar sayup tilawah beberapa orang yang sedang i’tikaf menanti isya di dalam masjid. Sesekali terdengar teriakan anak-anak yang sedang berkejaran di halaman masjid.
“Aku tak kehabisan akal,” sambungku lagi.
“Satu kali, aku pergi jauh ke daerah hulu sungai, alirannya cukup deras, hutannya lebat dan aku yakin sekali tidak ada mata-mata Ibu maupun Bapak yang sampai kesana.”
“Aku ingin menyentuh sungai, bermain-main dan belajar mengapung di atasnya seperti anak-anak kampung pada umumnya. Kuajak sohibku, Deni, si Jago Renang. Kalian mungkin belum pernah mengenalnya.”
“Aku sangat bahagia waktu itu, Man. Tidak ada hari yang lebih membahagiakan selama hidup, kecuali hari itu.”
“Aku mulai melangkah ke pinggiran sungai walau mulanya agak ragu. Terus melangkah pelan menyusul Deni yang begitu piawai menuju ke tengah sungai,” lanjutku lagi.
“Tiba-tiba kakiku terperosok dan aku akhirnya tenggelam, terbawa arus sungai yang cukup deras. Aku sudah pasrah dan berpikir pasti hari itu adalah hari kematianku. Terbayang wajah kedua orang tuaku yang akan menangisi kematian anak semata wayangnya.”
“Di penghujung sadarku, aku mendengar teriakan Deni memanggil-manggilku dengan panik.”
“Di dalam hati aku hanya bisa berdoa. Ya Allah, jika ini memang akhir waktuku, izinkan Ibu dan Bapak menemukanku dan bisa memelukku untuk terakhir kali sebelum dimakamkan.”
“Kelam setelah itu, Man. Aku tidak begitu yakin apa yang terjadi. Seolah ada sosok tak kasat mata yang menarik tanganku ke tepian.”
“Aku terbangun di Puskesmas. Kudapati Ibu dan Bapak di sampingku. Sembap mata Ibu karena banyak menangis, sementara Bapak tampak lebih kuat walau kecemasannya tidak bisa ditutupi dari gelagatnya.”
“Kusapa Ibu dan Bapak, meminta maaf dan bertanya Deni di mana.”
“Mereka hanya menjawab Deni ada dan bilang jangan mikirin hal lain dulu, terpenting bagaimana bisa cepat pulih agar segera pulang ke rumah.”
“Tahukah kau, Man?” tanyaku.
Rusman seolah berusaha menanggapi tapi tetap memilih diam. Ia mulai tertarik dengan ceritaku dan tampak lebih tenang dari sebelumnya.
“Beberapa hari setelah di rumah, aku baru tahu kalau Deni meninggal. Sepertinya berusaha menyelamatkanku namun kemudian nyawanya sendiri tidak tertolong. Tuhan menjemputnya lebih awal dari pada aku. Aku benar-benar terpukul. Deni sudah lebih dari sohib, ia sudah seperti Saudara. Tidak sehari pun berlalu tanpa Deni. Aku terpukul bahkan hingga hari ini.”
“Man, cerita ini bisa saja tidak nyambung dengan apa yang kau alami hari ini,” lanjutku.
“Tapi selama Tuhan masih memberi nafas. Percayalah Tuhan masih ingin kita bertahan, walau satu hari lagi. Tidak peduli kita piawai atau tidak di hidup kita saat ini. Deni lebih piawai berenang tapi kenapa justru ia yang hanyut dan aku yang selamat?”
“Ada maksud kenapa kita tetap diberi nafas hingga hari ini. Jika lelah, berhenti sejenak, istirahat secukupnya. Kemudian berjalanlah kembali, syukurilah setiap hari di mana kita masih bisa melangkah dan bertahan.”
Cerita kujeda sebentar, kusapa beberapa jamaah yang kembali hadir di masjid. Tak beberapa menit lagi azan isya berkumandang.
“Man, bertahanlah satu hari lagi,” kembali kutepuk bahunya. Kuselipkan beberapa lembar rupiah di saku bajunya.
“Siap-siaplah kita. Sudah mau azan,” kuakhiri cerita, Rusman menggamit dan mencium tanganku.
Beberapa hari setelahnya, Rusman mengabarkan berbekal uang yang ada, ia sudah mulai pelan-pelan meniti usaha kerajinan perhiasan.
Terima kasih, ya Allah. Telah memilih aku dan Rusman untuk bertahan satu hari lagi hingga kini.
