Nun di ujung sebuah dusun ada Nenek Nuriyah yang saban hari membersihkan langgar yang hanya setahun sekali ramai dikunjungi umat. Lantai ubinnya bersih mengkilap bak dijilat. Paling tidak magrib, isya dan subuh ia membuka langgar dan menunaikan salat di dalamnya. Bahkan pernah sekali sang nenek bikin heboh, ia mengumandangkan azan suatu subuh karena para lelaki tak ada, kampung geger. Itulah cara Nenek Nuriyah mencari bekal pulang, agar ada cerita kebaikan kelak ketika berjumpa Allah.
Di tengah hiruk-pikuk kota ada Kang Juwanda, seorang PNS yang saban waktu berbagi makan gratis bagi siapa saja. Juga turut menginspirasi kawan-kawannya melakukan hal yang sama. Sudah banyak masyarakat terbantu karenanya. Berapa banyak doa melantun dari tiap mulut yang makan, yang kemudian sampai ke langit. Itulah cara Kang Juwanda mencari bekal pulang, agar ada cerita kebaikan kelak ketika berjumpa Allah.
Mas Untung juga tak mau ketinggalan menorehkan ceritanya sendiri. Sekali dalam sebulan, ia menyambangi masjid atau musala perkampungan. Mencatat nomor rekening listriknya, kemudian membayarkan tagihannya. Itulah cara Mas Untung mencari bekal pulang, agar ada cerita kebaikan kelak ketika berjumpa Allah.
Di sebuah kantor pemerintahan ada Uda Sarman, sopir sang bos besar. Setiap waktu salat ia akan masuk belakangan setelah ikamah demi merapikan sandal dan sepatu jemaah. Selepas salat senang sekali hati jemaah melihat sepatu dan sandal berbaris rapi. Itulah cara Uda Sarman mencari bekal pulang, agar ada cerita kebaikan kelak ketika berjumpa Allah.
Di belahan bumi lain, di Jalur Gaza Palestina. Sebut saja Shafiyah, seorang gadis belia berumur 19 tahun. Memilih menghabiskan waktunya untuk berkhidmat di dapur umum, melayani keperluan makan warga Palestina, walaupun hidupnya sendiri juga tak mudah. Satu waktu seorang bertanya kepadanya, “Kalian hidup susah seperti ini, padahal kalian bisa mencari kehidupan yang lebih baik di luar Jalur Gaza. Kenapa tidak hijrah saja, misalnya ke Amerika atau Eropa?”
“Hijrah dari Gaza? Tidak mau!”
“Tidak akan pernah. Ini negeri kami! Disini rumah kami! Ini tanah yang diberkahi Allah. Kami rela mengorbankan diri kami agar kalian dan anak cucu kalian tetap bisa memandang Al-Aqsa dan beribadah di dalamnya. Agar Al-Aqsa tak hanya tinggal cerita di Al-Quran. Kami malu kiranya nanti diminta pertanggungjawaban tentang Al-Aqsa di hadapan Allah.”
Itulah cara Shafiyah mencari bekal pulang, agar ada cerita kebaikan kelak ketika berjumpa Allah. Shafiyah dan penduduk Palestina enggan pergi dari negerinya karena disanalah negeri mereka. Mereka dulu hidup dalam kedamaian sebelum tamu yang awalnya mereka sambut dengan hangat, akhirnya merampas tanah mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ
“Barang siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid.” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim dan yang lainnya).
Sementara itu di sudut kamar, ada kita yang kemudian begitu nyaman berkomentar melalui media sosial bahwa apa yang dilakukan Nenek Nuriyah terlalu berlebihan. Apa yang dilakukan Kang Juwanda dan Mas Untung sok-sokan saja, wong urusan makan dan listrik keluarganya saja belum beres, ini malah ngurusin makan dan listrik orang lain. Begitu juga yang dilakukan Uda Sarman hanya buat menarik perhatian atasan dan pegawai lainnya agar bisa dapat jatah amplop atau mungkin jabatan yang lebih baik.
Kita pun kemudian terus mencari pembenaran bahwa Shafiyah dan rakyat Palestina harusnya berbagi tanah saja dengan perampok yang datang ke rumah mereka? Atau bahkan Palestina harusnya pindah dari negerinya dan memberikan saja tanahnya kepada sang perampok karena telah banyak wanita dan anak-anak yang jadi korban dalam konflik yang tidak berkesudahan. Tak sebatas itu, kita kemudian menganggap sebagian rakyat dalam negeri yang berbondong-bondong membantu Palestina dengan kucuran dana adalah orang-orang yang tak cinta tanah air, sibuk saja memikirkan dan membantu negara lain dan melupakan tanah air sendiri yang juga butuh bantuan.
Itulah cara kita mencari bekal pulang, agar kelak pun ada cerita kenyinyiran yang kita anggap baik ketika berjumpa Allah.
لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَعَّانِ، وَلَااللَعَّانِ، وَلَاالْفَاحِشِ، وَلَاالْبَذِئِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang tajam mulutnya, tidak mudah melaknat, tidak cabul dan tidak pula jorok perkataannya.” (Hadits Shahih, Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)
