Seorang perempuan berparas molek tetiba masuk ke kamar hotel. Ada seorang anak laki-laki muda yang diutus mewakili pesantrennya untuk kejuaraan Taekwondo tingkat provinsi di kamar itu. Ia kaget bukan kepalang ketika perempuan tersebut menggoda dan nekat menarik bajunya hingga sobek. Mukanya pucat pasi, ia ketakutan setengah mati, perempuan tersebut memang elok tapi ia lebih takut kepada Allah.
Mungkin ia bisa saja berusaha melumpuhkan perempuan tersebut, tapi dalam keadaan sedemikian panik ia justru menjadi kaku. Ia menutup matanya dan kemudian terbayang wajah letih Baba-nya yang bertungkus lumus setiap hari menghidupinya. Ia membayangkan betapa Baba-nya akan sangat kecewa jika anak kebanggaanya justru menuruti hawa nafsunya dan tidak mengindahkan perintah Allah.
Di tengah situasi yang sangat sempit, bergetar bibirnya, terucap
إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Hasyr [59]:16)
Qadarullah, pintu kamar terbuka oleh layanan kebersihan kamar yang lupa membunyikan bel dan mengira tidak ada orang di kamar. Perempuan itu panik, sang anak muda memanfaatkan peluang itu untuk berlari sekencang-kencangnya meninggalkan kamarnya, ia tidak menyangka beberapa kawan kelasnya justru menjebaknya.
Kejadian itu terjadi enam bulan yang lalu. Semua kawan-kawannya yang terlibat telah dipulangkan kepada orang tuanya. Sementara, sang anak muda justru semakin mengokohkan keyakinannya bahwa Allah akan selalu ada baginya dalam setiap saat dan keadaan.
Seperti hari biaasanya, anak muda itu telah duduk khusyuk di sudut kanan barisan paling depan masjid yang ada di lingkungan Pesantren Khidmatul Ummah. Paling lambat 15 menit sebelum azan ia telah tiba. Setelah salat tahiyyatul masjid, ia lanjut merapalkan zikir harian atau tilawatil quran. Sesiapa saja yang melihatnya selalu takjub dengan keistiqamahan anak muda ini. Air mukanya sangat teduh, tuturnya pun halus dan penuh hikmah, tak pernah sepotong kata kotor pun meluncur dari lisannya. Ustadznya kadang berseloroh menyebutnya “anak muda yang terjebak di dalamnya jiwa yang sangat sepuh.”
Kawan-kawan di kelasnya kadang melihat hidupnya sangat monoton dan membosankan, makanya kerap ada yang mengusilinya hingga kelewatan batas seperti kejadian sebelumnya.
Jauh sebelum azan subuh menyapa ia sudah mandi dan kemudian menghamparkan sajadahnya demi menyambut sepertiga malam yang Istimewa. Ia bisa berjam-jam tenggelam dalam munajat yang begitu dalam. Ia menyebut satu persatu nama di dalam munajatnya, nama Baba-nya, Umma-nya, adik-adiknya, kakek dan neneknya, guru-guru dan bahkan kawan-kawan kelasnya yang telah tega menjebaknya ketika itu. Tak luput ia doakan agar senantiasa dilimpahi kebaikan dan ditunjuki kepada jalan-jalan kebenaran.
Selepas subuh di masjid, ia menyelesaikan zikir paginya. Kemudian sesegera mungkin kembali ke kamar dan mempersiapkan keperluan di kelas nantinya. Biasanya jam 6 semuanya sudah beres, ia akan beranjak mengambil sarapan, menyelesaikannya dengan cepat dan kemudian kembali berwudu. Setengah jam setelah itu, ia meninggalkan kamarnya, menuju kelasnya. Biasanya jalanan menuju ke kelas masih belum ramai, ia harus menyeberang jalan besar untuk menuju kelasnya. Sambil menuju kelas, ia manfaatkan setiap langkah untuk murajaah hafalan al-Qurannya. Dalam 5 tahun terakhir ia telah berhasil menghafal 25 juz.
Beberapa langkah lagi ia tiba di gerbang, tetiba sebuah mobil yang melaju kencang menabraknya. Anak muda itu, Alif namanya, terlempar cukup jauh.
“ALIIIF… ALIIIF… ALIIIF…! BANGUN, LIIIF..!”
“Baba, baba, bangun, Ba..!” Umma Alif membangunkan suaminya, Baba-nya Alif.
Suaminya terbangun, bulir-bulir keringat sebesar jagung menghiasi dahi pria itu, matanya sembab oleh air mata. Ia terlihat lebih tua dari umurnya sejak kematian anaknya Alif tiga tahun yang lalu.
“Baba mimpiin Alif lagi? Tunggu disini, Umma ambilkan minum sebentar ya?” ujar Umma.
Alif anak sulung kebanggaannya, anaknya tidak meninggal ditabrak mobil, pribadi Alif di dalam mimpi betul-betul hanya impian Baba Alif belaka, too good to be true. Impian yang dia harap bisa dituai ketika Alif tamat dari pesantren. Awalnya Alif sudah on the track ketika awal masuk pesantren. Babanya mendidiknya cukup baik, ia sudah mengantongi ijazah dengan nilai terbaik dan memiliki hafalan 3 juz al-Quran setamat Sekolah Dasar.
Namun, memasuki tahun keempat di pesantren Alif salah bergaul. Ia kemudian merokok tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, bertingkah seperti Alif sebelumnya ketika pulang liburan. Baba dan Umma Alif sama sekali tidak menyadari itu sampai suatu ketika di liburan semester genap, Alif muntah darah.
Baba-nya segera membawanya ke IGD. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter kemudian mendiagnosa bahwa Alif menderita kanker paru-paru. Menyakitkan lagi, bahwa kemudian dokter memvonis Alif memiliki harapan hidup hanya sampai 4 bulan. Baba dan Umma Alif terpukul bukan kepalang saat itu. Anak yang dibanggakan dan diharapkan menjadi contoh baik bagi adik-adiknya justru harus berakhir seperti ini.
Alif bertahan 2 bulan lebih lama dari yang diperkirakan dokter. Setengah tahun setelah Alif di bawah ke IGD, Alif akhirnya menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Baba. Orang yang selalu tenang, kuat dan menguatkan di hadapannya. Tapi begitu remuk dan lemah ketika menyendiri di belakangnya, ia merasa gagal menjadi Ayah Terbaik. Segala macam ikhtiar telah diupayakan, semua harta benda telah dijual termasuk tanah satu-satunya yang awalnya akan dibangun rumah untuk Alif dan adik-adiknya tinggal.
Tiga tahun berlalu, tapi bagi Baba itu seperti baru tiga hari yang lalu. Dan tak satu hari pun berlalu kecuali ia terus menangisi dan menyesali kepergian Alif.
FYI, berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (KOMNASPT), di Indonesia kematian akibat rokok mencapai 217.000 – 240.000 jiwa per tahun.
