Freepik.com sampai sekarang menjadi satu-satunya layanan yang saya manfaatkan stok fotonya sebagai pendukung dalam tulisan di blog ini. Selain dari koleksi foto pribadi tentunya. Tidak hanya stok foto, di laman tersebut juga tersedia stok vector dan juga PSD (Photoshop Document). Layanan di freepik sendiri ada yang free dan juga premium. Bagi yang berminat dengan layanan premium harus membayar layanan 9.99 EUR per bulan atau bisa juga pembayaran dilakukan per tahun untuk mendapatkan biaya layanan yang jauh lebih murah. Saat ini saya sendiri masih memanfaatkan layanan free karena kebutuhannya masih belum terlalu tinggi. Masih tergantung dengan mood menulis yang kadang turun naik. Namun, meskipun masih menggunakan layanan free, saya tetap memberikan apresiasi kepada freepik salah satunya mungkin dengan tulisan ini dan juga attribution yang saya sematkan pada tulisan yang memanfaatkan resources foto yang mereka sediakan.
Apresiasi menjadi penting untuk dibudayakan sebagai bentuk penghargaan atas karya orang lain. Penggunaan aplikasi secara legal, tidak membeli buku bajakan, memberikan attribution yang tepat atas digital resources orang lain merupakan beberapa bentuk apresiasi yang baik. Saya sendiri mulai membiasakan membeli license aplikasi yang saya gunakan sehari-hari seperti operating system, aplikasi office dan antivirus untuk komputer. Di gawai pribadi pun ada sejumlah aplikasi berbayar yang saya gunakan. Semua dilakukan sebagai bentuk dukungan untuk para developer aplikasi tersebut.
Saya punya pengalaman beberapa tahun yang lalu, ketika itu masih getol dengan dunia fotografi. Untuk kebutuhan galeri foto di blog, saya menggunakan layanan photoserver (dot) ws. Sejumlah foto saya simpan pada laman tersebut. Tak lama berselang, laman tersebut menyatakan tidak beroperasi lagi. Sedih sih, tapi bisa jadi semua terjadi karena kurangnya apresiasi dan dukungan dari penggunanya, saya salah satunya.
Saya tergelitik ketika seorang rekan berkomentar kurang lebih seperti ini, “Ngapain pada ngucapin terima kasih sih? Toh, itu memang tugas dan kerjaannya dia.”
Dia sepertinya risih ketika salah satu grup WhatsApp dipenuhi ucapan terima kasih kepada salah satu rekan kerja kami. Betul sih itu kerjaannya tapi tidak ada salahnya mengucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi.
Sama halnya dengan kewajiban seorang ayah untuk menafkahi keluarganya. Sering kita temui seorang ayah bertungkus lumus seharian demi menghidupi keluarganya. Tidak pun kita berterima kasih, seorang ayah yang baik akan tetap menjalankan kewajibannya tersebut. Tapi tidak ada salahnya ketika seorang ayah pulang bekerja misalnya, kita sambut dia dengan senyum, dengan rumah yang sudah bersih dan tertata rapi. Atau mungkin kita sediakan minuman hangat dan makanan kecil sebagai bentuk rasa terima kasih karena dia telah berlelah-lelah untuk kita.
Budaya apresiasi adalah sesuatu yang baik untuk dibiasakan di dalam lingkungan keluarga dan pergaulan. Kurangnya apresiasi kita kepada orang lain sebenarnya merupakan indikator kurangnya rasa syukur kita kepada Allah ﷻ sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan dalam sebuah hadits sahih,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ
“Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Dhiyauddin al-Maqdisi)
