Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Buku Catatan Hutang Abah

“Bah, besok Dhara menikah…”

Langit sore itu cerah. Gadis 23 tahun sedang berbaring beratapkan langit, beralaskan tikar lipat yang dibawa dari rumahnya. Seolah sedang di tempat tamasya, tapi bukan, ia bukan berbaring di taman atau tempat liburan lainnya. Ia berbaring di samping makam Abah dan Ambunya.

Sepetak tanah makam itu dibeli Abahnya ketika masih hidup. Ukurannya sekitar 5 x 8 meter. Abahnya berpikir, makam itu akan cukup menampung mereka berlima dan mungkin menantunya juga kelak kalau sudah waktunya pergi.

Tanah pemakaman itu dikelilingi pagar sederhana dengan tinggi tiga bata dari permukaan tanah. Semasa hidupnya, Abah meratakan tanahnya. Ditanami rumput jepang dan sejumlah bunga krokot warna-warni di sekeliling pagar bagian dalam. Sekilas kadang lebih mirip taman bunga ketimbang pemakaman yang kesannya menyeramkan itu.

“Bah, udah setahun Dhara tidak mampir kesini.”

Gadis itu membalikkan badannya ke kiri, sambil menatap nisan Abahnya. Seolah berbicara sambil menatap wajah Abahnya ketika masih hidup.

“Bah, Abah tau ga?”

“Abah tuh jahat, Abah tinggalin Dhara sendiri demi ketemu Ambu.”

“Kan sering Dhara bilang, nanti aja ketemu Ambunya kalau Dhara udah nikah.”

“Abah juga kalau dibilangin ga mau denger, dibilang makan yang banyak, jawabnya usus Abah ga sepanjang Dhara.”

“Jangan telat makan ya, Bah. Nanti kambuh mag-nya, tinggalin juga minum kopi biar asam lambung ga naik, eh jawabnya mau makan tepat waktu atau ga, mau minum kopi atau ga, kalau waktunya sakit datang, ya sakit juga. Adaaa aja.. jawabnya! Dhara masih kesal sama Abah,” terus saja Gadis itu berkicau seolah Abahnya mendengar.

“Bah, pasti sekarang udah senang ya ketemu Ambu?”

“Gimana di sana, Bah? Pasti di surga orangnya baek semua, makanannya enak-enak. Abah pasti sekarang udah ndut. Ya kan, Bah?”

“Eh iya, Bah. Gimana kopi di surga masih sama pahit kayak kopi di dunia?” Dhara mencoba bercanda.

“Abah, jawab dong! Dari tadi kok diem aja,” Dhara mulai merajuk seperti kelakuannya waktu kecil ketika tidak dipenuhi keinginannya.

Dhara tetap saja menjadi gadis kecil di mata Abahnya ketika masih hidup. Sosok manja yang selalu menggelayut di sisi Abahnya meski sudah berumur 20 tahunan. Bagi Dhara, tidak ada laki-laki setulus dan sebaik Abahnya. Bahkan baginya, calon suaminya saat ini tidak bisa menggantikan sosok Abahnya. Abah, tetap menjadi cinta pertamanya, dan akan tetap seperti itu selamanya.

“Bah, tadi malam Dhara ketiduran di kamar Abah. Udah setahun ini kamar itu tidak dihuni, tapi setiap hari Dhara selalu bukakan jendelanya agar angin dan matahari tetap masuk. Sesekali ketika libur kerja Dhara bersiin kamar Abah. Kadang kalau pas Aa Irfan main ke rumah atau Dik Galih libur kuliah, mereka juga bantuin.”

“Bah, maafkan Dhara tadi malam iseng buka lemari pakaian Abah.”

“Dhara nemuin buku, di covernya Abah tulis Catatan Hutang Abah.”

“Awalnya Dhara kaget, udah ninggalin Dhara sendiri, ninggalin utang lagi.”

“Pas Dhara buka, Dhara jadi sadar bahwa Abah telah berbuat banyak untuk Ambu, Aa Irfan, Dhara dan Dik Galih.”

“Abah sebegitunya ke kami. Semua janji Abah dan permintaan kami, Abah anggap hutang. Abah tuliskan di buku itu, Abah ceklis ketika udah terpenuhi. Hampir setengah buku terisi, Bah. Abah pasti capek agar semua hutang Abah terceklis. Terima kasih ya, Bah.”

“Tapi, Bah. Masih ada satu hutang Abah yang belum terceklis, menikahkan dan mendampingi Dhara di pelaminan. Abah dulu juga pernah janji akan memastikan suami Dhara bukan lelaki berengsek. Kalau berengsek akan Abah tinju, gitu kata Abah dulu.”

“Bah, Dhara datang untuk menagih hutang Abah. Abah kenapa pergi duluan?”

Dhara bangkit dan duduk, diletakkannya kepala di atas sisi pusara sambil menatap nama Abah yang tertulis di batu nisan, Dadang Durahman. Dielus-elusnya, kemudian tangisnya kembali pecah. Ia terluka sekali sepertinya.

“Ra.. Udah, yuk..,” tetiba ada yang memanggil Dhara. Ia memperhatikan Dhara sedari tadi.

Dhara menoleh ke belakang, “Aa Irfan, kok disini?”

“Iya, tadi Galih yang bilang kamu ke makam,” jawab Irfan.

“Aa minta maaf ya, baru bisa datang hari ini. Tapi, alhamdulillah Aa dapat cuti sampai pekan depan.”

“Iya, Aa. Ga papa, Dhara maklum.”

“Kita doain Abah sama Ambu dulu yuk sebelum pulang,” ajak Irfan.

Irfan duduk di samping adiknya, Dhara. Ditengadahkan tangannya, dikirimkan doa terbaik untuk kedua orang tuanya. Setelah itu ditaburkan bunga yang dibawa Irfan dari rumah.

“Ambu, Abah, Irfan izin gantiin posisi Abah ya, buat menikahkan Dhara sama calonnya besok. Ambu dan Abah istirahat yang nyaman di surga. Terima kasih telah membersamai dan terus berjuang membesarkan kami. Kami pamit ya.”

“Yuk, Ra. Kita pulang,” ajak Irfan.

Irfan dan Dhara beringsut dari duduknya. Melipat tikar dan membawa kembali keranjang bunga yang dibawa ke makam.

Abah, Ayah, Bapak, Papa atau bagaimana pun kita memanggilnya. Bahkan kita kadang lupa kapan terakhir kali menanyakan kabarnya. Padahal, pundaknya paling banyak menahan beban. Langkahnya paling jauh demi rumah.

Ia selalu tampak paling kuat, tapi ternyata diam-diam kadang menangis rapuh dalam kesendirian.

Hidup tak selalu mudah baginya. Ia memilih terus melangkah dan tak menyerah, meski lelah dan acap berdarah-darah.

Terima kasih, Abah, Ayah, Bapak, Papa atau bagaimana pun engkau selayaknya dipanggil.

Photo by Niko Nieminen on Unsplash

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top