
Belum genap 4 bulan di kehamilan pertama, kami harus mengikhlaskan kepergian dua janin yang ada di rahim istri. Dokter yang melakukan kuretase menyebutnya begitu, ada dua janin. Sempat kaget bercampur kecewa karena sepengetahuan kami belum ada riwayat anak kembar di kedua keluarga kami sampai ke nenek kakek kami, tentunya ini akan menjadi sesuatu yang indah apabila akhirnya kedua janin tersebut kemudian bisa lahir dengan selamat ke dunia. Tapi sudahlah, tak baik berandai-andai.
Selang beberapa pekan, akhirnya istri kembali hamil. Dan kemudian buah hati kami lahir di bulan Juli 2008, anak laki-laki pertama yang lahir dengan selamat. Hal berikutnya yang menjadi penting menurut kami adalah memberikan nama terbaik untuk anak kami tersebut. Meskipun sebuah ungkapan jamak terdengar, “Apalah arti sebuah nama?”
Bagi kami, nama adalah doa dan juga harapan. Harapannya, ketika nama-nama mereka dipanggil seketika itu pula panggilan tersebut menjadi doa bagi mereka. Bukankah telah menjadi kebiasaan Nabi ﷺ mengganti nama yang kurang baik dengan nama yang baik. Di beberapa kita hadits diceritakan Said bin Al-Musayyib pernah mengisahkan perihal kakeknya yang bernama Hazan (artinya sedih) datang menemui Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ bertanya namanya. Kakeknya menjawab, “Nama saya Hazan.”
Lantas beliau ﷺ mengatakan, “Tidak, namamu adalah Sahal (artinya mudah).”
Kakeknya berkata, “Saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan oleh ayahku.”
Said bin Al-Musayyib meneruskan, “Setelah itu kakekku selalu kelihatan seperti orang yang sedih di tengah-tengah kami.”
Dari kisah ini, kita dapat belajar agar tidak abai dalam memberikan nama terbaik untuk anak-anak kita. Saya berkeyakinan tak ada satu pun orang tua yang menginginkan keburukan berlaku di kehidupan anak-anaknya. Lazimnya setiap orang tua menginginkan kebahagiaan mengiringi hari anak-anak mereka, demikian juga kami.
Nawfal Ahmad Vianza, anak laki-laki pertama di keluarga kami ini lahir pada 21 Juli 2008. Menjadi kesayangan nenek-neneknya kala itu, jadi rebutan ketika akan memandikan dan memakaikan baju. Maklum, saudara istri semua perempuan dan saudara saya pun semua perempuan. Nawfal memiliki arti dermawan, Ahmad adalah nama lain Nabi ﷺ dan Vianza adalah nama keluarga yang kelak kami sematkan di belakang nama setiap anak kami. Harapan kami agar si sulung memiliki keutamaan dalam kedermawanan dan terpuji di dalam kehidupannya.
Naureen Aqila Vianza, anak tercantik kami sampai saat ini alias satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Ia lahir pada 25 April 2010. Naureen bisa diartikan cahaya benderang dan Aqila memiliki arti yang berakal. Paduan dua kata di dalam namanya mewakili sebuah harapan agar ia kelak dianugerahi akal (pemikiran) yang senantiasa dinaungi cahaya benderang dari Allah ﷻ.
Nauzan Althaf Vianza, anak bungsu kami saat ini dilahirkan 20 Juli 2013, hampir saja lahir di tanggal yang sama dengan abangnya. Nauzan artinya pemimpin, Althaf artinya lemah lembut. Kelak kami berharap bungsu kami ini akan menjadi pemimpin yang memiliki sikap lemah lembut dalam mengayomi siapa pun yang dipimpinnya.
Alhamdulillah, nama-nama itu semenjak mereka kecil telah ‘memperlihatkan diri’ melalui tingkah laku sehari-hari mereka meski masih kerap dihiasi sifat kekanak-kanakan mereka. Semoga semakin dewasa, semakin banyak orang menyebut nama mereka dan menjadi doa yang dikabulkan.
Terakhir, masih tentang nama. Tak jauh dari tempat tinggal kami kala itu, sekitar satu kilometer, ada sebuah jalan, di plang namanya tertulis Jalan Kerikil. Kami tinggal di bagian timur jalan itu selama 2 tahun kemudian pindah ke bagian barat jalan itu dan telah tinggal selama 4 tahunan ketika itu. Paling tidak sudah 6 tahunan kami tinggal di sekitar jalan itu. Lucunya selama itu, Jalan Kerikil tersebut tetap menjadi jalan berkerikil meskipun jalan di sampingnya telah berganti aspal atau jalan yang mulus. Jadi, ada dong arti sebuah nama?
