Pagi itu Atok sedang memandangi sepeda tua yang biasa menemaninya pergi kemana-mana. Ban belakang sepedanya sudah benar-benar reyot, tidak bisa ditambal lagi, harus diganti tapi ia belum punya cukup uang. Sementara itu, Atok juga tahu bahwa dua hari yang lalu sebelah anting Omah, istrinya, tercecer ketika di kebun. Anting tersebut baru saja dibelikan oleh anaknya, yang bulan kemarin pulang dari rantau. Mereka berdua sudah berusaha menyusuri tiap titik di kebun namun belum berhasil menemukan anting tersebut.
Atok pada akhirnya memutuskan untuk menjual ban sepeda depan yang masih bagus ke pasar. Uang hasil penjualan nantinya bisa ia belikan sebelah anting untuk Omah. Setelah pamit dengan Omah, Atok membawa ban sepedanya ke pasar. Setelah berkeliling untuk mendapatkan harga yang pas, Atok berhasil juga menjual ban sepeda depan. Segera setelah itu Atok menuju toko perhiasan tempat dimana sebelumnya sang anak membelikan anting buat Omah.
Atok segera pulang dan membayangkan bahwa Omah akan sangat bahagia menerima hadiah darinya. Tanpa mengucap salam dan mengetuk pintu, Atok bersegera masuk ke dalam rumah dan memanggil-manggil Omah. Omah keheranan melihat Atok yang sangat antusias. Atok kemudian menyerahkan bungkusan kecil yang dibawanya dari pasar. Dimintanya Omah membuka hadiah kecil tersebut. Omah terlihat serba kebingungan setelah membuka hadiah kecil tersebut, tak tampak binar bahagia air mukanya.
“Omah kok terlihat bingung? Bukan bahagia?” tanya Atok sembari menatap Omah.
“Tok, kemarin pagi ketika Atok masih di kebun, Omah pergi ke pasar menjual anting sebelah lagi yang masih ada. Omah iba melihat Atok harus berjalan ke kebun. Tadinya Omah mau kasih bannya pagi ini, tapi Atok tadi buru-buru pergi ke pasar,” jelas Omah.
Mendengar itu Atok menjadi sama bingungnya dengan Omah. Namun, tak berselang lama Atok malah terbahak-bahak menertawakan kelakuan mereka berdua. Omah pun ikut cekikikan.
Apakah kita pernah mengalami kejadian serupa? Ya, ini hanya tamsil saja. Banyak kebaikan yang tidak dikomunikasikan dengan baik malah jadinya tidak wujud menjadi apa-apa. Saya pernah menemukan keluarga sahabat saya yang setiap paginya memprogramkan musyawarah keluarga. Mendengarkan dan mendiskusikan apa kegiatan yang dilakukan kemarin serta apa kegiatan yang diagendakan Ayah, Ibu dan juga anak-anak sampai malam nanti. Bahkan urusan masakan di dapur juga dirembukkan di dalamnya. Salut!
Saat ini, banyak keluarga yang kehilangan momen untuk bercerita dan mendengarkan cerita masing-masing anggota keluarga. Sikap kita yang tidak bijak dalam menggunakan gadget misalnya, menjadi salah satu yang ikut andil menciptakan dinding penghalang dalam komunikasi di dalam rumah. Ayah, Ibu dan anak-anak sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ironisnya, kita bisa tahu status detik per detik kawan di ujung-ujung dunia namun kadang tidak menyadari status mereka yang ada di samping kita. Belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Taruh dulu gadgetmu. Ngobrol, yuk?
People photo created by aleksandarlittlewolf – www.freepik.com
