Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Sebait Rindu

Ia tertunduk begitu dalam dan cukup lama. Ditemani kicau burung dan sahutan takbir yang masih menggema di langit bumi pagi itu. Diletakkannya tangan di atas tanah, berharap hangat rindunya sampai ke dalam bumi, menyapa Mama yang telah lama meninggalkannya. Pelan sekali ia kemudian berbisik di atas gundukan tanah yang cenderung rata dan sudah sangat kering.

“Ma…”

“Aku di rumah sekarang.”

Ia kembali terdiam tak kuasa melanjutkan kata. Air matanya mulai menderas membasahi sejumput tanah di atas pusara. Bulan Mei di tahun 2014, ketika jasad Mamanya dibaringkan, menjadi kali terakhir ia duduk di atas pusara itu. Baru 4 tahun kemudian ia merasa kuat untuk kembali menemui Mamanya.

Ia sepertinya ingin mengatakan bahwa ia sekarang sudah kembali ke rumah, kembali ke kampung halaman. Keinginan yang dulu pernah disampaikan oleh Mamanya untuk tinggal di kampung saja, menemani hari-hari tua Mamanya, kini ia bisa tunaikan.

Tahun 2017 silam, setelah 10 tahun merantau, takdir membawanya pulang, kembali ke kampung halaman. Rumah tinggalnya kini bahkan berdampingan dengan pusara Mamanya. Namun, satu tahunan ia bahkan tak berani untuk sekedar menoleh ke pusara yang ada di samping rumahnya itu.

Dalam diam sepertinya ia ingin mengungkapkan bahwa ia begitu merindukan Sang Mama. Sosok yang kerap menemani hari-harinya lewat sambungan telepon ketika di rantau orang. Mereka tak selalu kompak, tak jarang cerita di ujung telepon berakhir dengan emosinya yang meledak-ledak kepada Mamanya. Namun, itu tak berlangsung lama, esok lusa sudah baik-baik lagi.

Kadang Sang Mama mengunjunginya di rantau tanpa memberi kabar terlebih dulu, mengantar beras hasil panen sawah begitu alasannya. Sang Mama sepertinya begitu paham, bahwa hidup anaknya tak selalu mudah. Tak setiap waktu anaknya bisa pulang. Bahkan momen lebaran yang jamak dimanfaatkan perantau bersua sanak keluarga, tak jarang dihabiskan anaknya di perantauan, tak bisa pulang kampung karena tak cukup ongkos.

“Ma…,” ucapnya mencoba kuat.

“Ini cucu Mama. Sudah besar.”

“Ia belum cukup bisa mengingat wajah Mama ketika itu. Tapi, syukurlah kala itu ia bisa menemani hari-hari terakhir Mama,” matanya kembali berkaca-kaca.

“Ma, maafkan aku. Lama tak berkunjung.”

“Aku rindu Mama.”

“Berbahagialah di sana ya, Ma.”

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi sekarang berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah).” (HR. Hakim)

Desrianza

One thought on “Sebait Rindu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top