Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Salam Tak Sekadar Sapa

Zulkarnaen, saya memanggilnya Jul. Orang yang tak mengenalnya dengan baik akan melihat dia sebagai orang yang aneh, tapi sungguh saya melihatnya sebagai sosok yang istimewa. Pagi itu ia sedang berjalan di jalanan kampung. Setiap orang yang dijumpai disapanya dengan tulus dengan senyum yang khas, tak peduli ia kenal atau tidak.

Tak dinyana, Ucok yang pagi itu sedang mabuk karena tuak berpapasan dengan Jul di jalan.

“Assalamu’alaikum,” sapa Jul sambil mengangkat tangan kanannya.

Ucok tersentak, ia seketika langsung sadar total dari mabuknya. Penasaran dengan Jul, diikutinyalah Jul dari belakang. Ia sama sekali belum pernah berjumpa dengan Jul sebelumnya. Dalam pikiran Ucok, Jul pastilah orang dengan ‘ilmu tinggi’. Ilmunya sungguh sakti mandraguna, sekali dia ucapkan mantranya hilanglah mabuk Ucok.

Eeh.. Rupanya Jul masuk ke masjid. Ucok menjadi ragu, ia tak pernah sekali pun masuk ke masjid. Tapi, demi menunaikan rasa penasaran dipaksakannya juga masuk ke dalam. Tiba di dalam ternyata tidak hanya Jul seorang, ada beberapa jemaah lain. Di penghujung Ramadan ini, masjid kecil itu dijadikan tempat itikaf oleh sejumlah jemaah.

Ucok menyapa Jul dan minta waktu untuk mengobrol. Jul kemudian malah mengajak Ucok menemui Mas Didi yang berbadan besar, salah seorang koordinator kegiatan itikaf.

“Assalamu’alaikum. Mas Didi, ini ada yang mau ngobrol,” ucap Jul.

“Oh iya,” jawab Mas Didi. “Siapa ini, Jul?”

“Gak kenal, Mas. Tadi jumpa di jalan,” ucap Jul lagi.

“Saya Ucok, Mas!” Ucok berinisiatif memperkenalkan diri.

“Saya Didi, Cok!” sambut Mas Didi. “Ucok mau ngobrol sama saya?”

Ucok mengangguk dan lantas menceritakan perihal perjumpaannya dengan Jul ketika ia sedang mabuk berat pagi itu. Ia bertanya tentang mantra yang diucapkan Jul saat berjumpa dan berkeinginan menguasai ilmunya.

Mas Didi terdiam sejenak, merasa takjub dengan cerita Ucok. Sekali-kalinya seumur hidup ia mendapati cerita salam yang tak sekadar sapa. Salam yang sejatinya memang sebagai doa kebaikan untuk orang yang disapa. Salam yang kemudian tunai diijabah Sang Pemilik Bumi di pagi Ramadan itu.

Pelan-pelan Mas Didi menjelaskan segala hal yang membuat Ucok penasaran. Salam tulus Zulkarnaen pagi itu benar-benar jadi jalan cahaya bagi Ucok. Ucok kemudian berikrar kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, kembali kepada jalan keselamatan.

Zulkarnaen, saya sungguh kagum padamu. Untuk sekadar mengucap salam sepertimu saja kadang masih timbul malu dan ragu di hati.

أَعْجَزُالنَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ، وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

“Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdoa dan manusia yang paling kikir adalah orang yang pelit mengucapkan salam”. (Hadits Shahih Riwayat at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ini adalah kejadian nyata yang kemudian saya ceritakan dengan cara lain. Saya ada bersama Zulkarnaen ketika itu menjadi saksi atas persaksian Ucok. Kejadian seperti ini kiranya menjadi ibrah. Sekecil apapun amal yang kita lakukan, ketika dilakukan dengan ketulusan maka pasti akan memberi pengaruh bagi diri dan lingkungan sekitar.

Saya pernah mendengar sebuah narasi berikut, ketika manusia berbuat kebaikan maka kebaikan tersebut akan naik ke langit seumpama cahaya dan kemudian berbalaslah kebaikan manusia tersebut dengan turunnya berbagai kebaikan dari langit. Sebaliknya, ketika manusia berbuat keburukan maka keburukan tersebut akan naik ke langit seumpama kegelapan dan kemudian berbagai bala serta bencana akan merundung bumi sebagai balasan atas keburukan yang dihantar.

Business card photo created by katemangostar – www.freepik.com

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top