
Ada satu kisah yang diceritakan di buku Semua Ada Saatnya. Buku ini ditulis oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ustadz Abdul Somad. Beliau mengisahkan bahwa ada seorang laki-laki di perkampungan Badui yang memiliki seekor ayam jantan, seekor anjing dan seekor keledai.
Setiap hewan ini sangat membantu kesehariannya. Ada ayam jantan yang setiap pagi berkokok membangunkannya shalat. Ada anjing yang menjaganya. Sedangkan keledai membawa air dan membawa kemah mereka.
Suatu waktu datang serigala menangkap ayamnya, beberapa waktu kemudian datang lagi serigala merobek perut keledainya hingga mati dan terakhir anjingnya pun mati. Mereka bersedih, namun pemiliknya yang shaleh itu setiap kehilangan hewan-hewannya selalu berkata, “Mudah-mudahan ada kebaikannya.”
Tak lama setelah itu, semua orang yang berada di sekitar mereka ditawan. Hal ini karena orang yang menawan tersebut mendengar ada suara anjing, keledai dan ayam. Sementara laki-laki Badui yang shaleh ini selamat karena tak terdengar suara ayam, anjing dan keledai dari tempatnya. Ternyata ada kebaikan dari kejadian-kejadian yang menimpanya.
Andai kita mencoba sedikit merenung, mungkin ada banyak kejadian di dalam kehidupan kita yang awalnya bisa jadi kita rutuki karena menimpa kita. Namun, sebenarnya ada berjuta-juta kebaikan yang hadir setelah itu.
Demikian pula dengan kejadian belakangan, mewabahnya COVID-19. Gerak kita kemudian dibatasi. Anak-anak tidak bisa sekolah, orang tua tidak bisa ke kantor ataupun mencari nafkah dengan leluasa, tempat-tempat keramaian kini lengang bahkan masjid-masjid serta tempat ibadah lain dimaklumatkan untuk tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan.
Percayalah, apapun itu selalu ada hikmah dibaliknya. Hikmah itu biasanya akan tampak nyata esok ketika semua telah berlalu. Saat ini terus saja bersangka baik, beribadah dan bertaubat dengan penuh kesungguhan kepada Allah ﷻ dan taatilah maklumat ulama kita.
Ingatlah Kisah Perang Uhud. Kala itu kaum muslimin telah menang. Namun, karena sebagian pemanah mengabaikan perintah Nabi ﷺ untuk kembali ke bukit akhirnya mereka mendapat serangan balik. Perang Uhud telah mencatatkan sejarah sebagai peperangan dengan korban muslimin terbanyak di zaman Nabi ﷺ masih hidup. Nabi ﷺ pun terluka, giginya tanggal dan topi bajanya pun pecah.
Di dalam buku Muhammad karya Martin Lings dikisahkan meskipun sebenarnya Nabi ﷺ hanya pingsan karena kerasnya serangan namun sempat terdengar sebuah suara yang sangat keras dan menyurutkan semangat juang sebagian sahabat, “Muhammad sudah mati!”
Jadilah pemenang dengan tidak mengabaikan arahan-arahan dari ulama kita yang hanif karena merekalah pewaris para Nabi. Bukan tidak mungkin kita justru tertipu dengan keshalehan kita sendiri, merasa menang namun ternyata kalah besar di hadapan Allah ﷻ.
