Jalan menuju surga tak melulu ditempuh dari ‘jalan raya’ yang ramai dan sesak dilalui khalayak. Ada lorong-lorong kecil yang kadang luput dari pandangan mata. Amalan yang mungkin nampak sepele bagi sebagian orang namun ternyata besar dalam pandangan Allah ﷻ. Kita mungkin tidak asing dengan kisah masa lalu tentang seorang pelacur yang kemudian Allah ﷻ berikan ampunan karena begitu tulus memberi minum seekor anjing yang sangat kehausan. Atau kisah sahabat Nabi ﷺ yang dikabarkan sebagai ahli surga oleh Nabi ﷺ karena selalu ikhlas memberi maaf kepada orang yang menyakitinya, tidak pernah iri, hasad atau dengki kepada manusia.
Di zaman ini pun terdapat kisah-kisah serupa yang saya dengar dan kemudian mengubrak-abrik kesombongan saya, kerap merasa bahwa nama sudah tertulis di surga sebab kesalehan yang sebenarnya tak seberapa dan cacat dimana-mana karena acap terbersit ria.
Saya mencoba mengurai kisahnya disini, kisah yang saya saksikan dari unggahan potongan video oleh dr Zaidul Akbar di Instagram. Berikut kisahnya,
Tersebutlah seorang da’i dari Maroko yang bermimpi dijumpai Nabi Muhammad ﷺ dan kemudian beliau bersabda, “Pergi dan temui Si Fulan bin Fulan bin Fulan. Dan kabarkan padanya bahwa ia adalah penduduk surga.” (orang yang dimaksud ada di Kota Makkah).
Da’i tersebut terus bermimpi dengan mimpi yang sama hingga malam ketiga.
Da’i ini kemudian bergegas mengumpulkan uang dan perbekalan menuju Makkah demi menunaikan amanah dari Nabi Muhammad ﷺ. Setelah tiba di Makkah dan melaksanakan umrah, ia kemudian menelepon orang-orang yang dikenalnya dari para da’i dan orang-orang saleh di Kota Makkah. Ia menyampaikan sedang mencari orang yang bernama Si Fulan bin Fulan bin Fulan.
Setelah mencari dan terus mencari, akhirnya mereka mendapatkan informasi bahwa orang yang mereka cari ada di sebuah daerah yang masih sangat tradisional (tertinggal). Mereka akhirnya tiba di daerah tersebut dan menanyakan kepada penduduk sekitar tentang keberadaan laki-laki yang disebutkan Nabi Muhammad ﷺ di dalam mimpi sang da’i dari Maroko.
Penduduk daerah tersebut keheranan, demi menyaksikan bahwa yang mencari laki-laki dimaksud adalah orang-orang saleh jika dilihat dari penampilan mereka dan tampaknya tak pantas untuk menemui laki-laki yang mereka cari. Laki-laki yang mereka cari dikenal sebagai orang yang rusak, sedangkan yang hadir mencari mereka adalah orang-orang yang saleh.
Da’i dari Maroko dan sahabat yang mengiringinya mengatakan bahwa mereka ingin menemui laki-laki tersebut. Mereka pun kemudian menuju ke rumah laki-laki yang disebutkan Nabi Muhammad ﷺ di dalam mimpi. Ketika laki-laki tersebut keluar dari rumahnya, tamunya menatap dengan perasaan aneh. Awalnya mereka membayangkan bahwa laki-laki yang akan mereka temui adalah orang yang taat beribadah, berjenggot tebal dengan wajah bersinar. Namun, yang hadir di hadapan mereka jauh dari bayangan tersebut.
Laki-laki yang ditemui tersebut merasa gentar dan kemudian bertanya, “Siapa kalian?”
Lantas da’i dari Maroko berjalan ke hadapannya, “Apakah kamu adalah Si Fulan bin Fulan bin Fulan?”
“Iya, benar. Akulah orangnya,” jawab laki-laki tersebut. “Apa yang kau mau?”
“Aku datang kepadamu membawa kabar gembira. Nabi Muhammad ﷺ tiga malam berturut-turut hadir di dalam mimpiku. Aku bersumpah, demi Allah, aku tidak berdusta padamu walaupun satu huruf. Nabi ﷺ bersabda, pergi temui dia dan beri kabar gembira bahwa ia adalah penduduk surga.”
Dikatakan laki-laki yang ditemui itu kemudian meletakkan tangannya di atas kepala dan jatuh terduduk ke tanah. Ia berkata tidak percaya, “Aku penduduk surga? Tidak! Kau berbohong kepadaku.”
“Demi Allah, aku tidak berdusta padamu,” tegas sang da’i. “Baru saja aku melaksanakan umrah, demi Allah tidak mungkin aku berdusta padamu.”
“Aku???” laki-laki tersebut duduk sambil menangis.
Ia kemudian diajak da’i dari Maroko ke Masjidil Haram.
“Demi Allah, aku bertanya padamu, apa yang kau telah perbuat?” tanya sang da’i. “Amalan apa yau kau lakukan?”
“Aku ini, demi Allah, adalah orang yang paling buruk dan rusak di daerah ini,” ungkap laki-laki Makkah itu. “Demi Allah, aku adalah orang yang paling jahat di daerah ini bahkan mungkin di seluruh negeri. Salatku terlambat, Masjidil Haram dekat namun aku entah sudah berapa tahun lamanya tidak pergi ke sana.”
“Coba kau pikir-pikir dan ingat-ingat lagi mungkin ada amalan ibadah lain yang telah kau lupakan,” pinta sang da’i.
Setelah mencoba mengingat. Laki-laki Makkah itu kemudian berkata, “Tidak ada amalan lain, hanya satu yang dapat kuingat. Si Fulan, tetanggaku, wafat dan meninggalkan istrinya yang menjanda serta anak-anaknya menjadi yatim. Maka ketika itu aku bersumpah, demi Allah Yang Maha Agung, aku akan membagi dua gajiku. Sebagian untuk keluargaku dan sebagian lagi untuk keluarganya. Demi Allah, sejak hari itu aku bersumpah hingga saat ini aku masih membagi dua gajiku, sebagian untuk janda tersebut dan anak-anaknya serta sebagian lainnya untuk anak-anak dan keluargaku.”
Mereka akhirnya berangkat ke Masjidil Haram setelah laki-laki Makkah itu membersihkan diri terlebih dulu. Air matanya terus mengalir sejak menginjakkan kaki di Masjidil Haram hingga iqamah berkumandang. Di saat imam mulai membaca ayat al-Quran, ia pun menangis tersedu-sedu hingga rakaat ketiga. Dan di sujud yang terakhir, ia tidak mengangkat kepalanya dari sujud. Ternyata, Allah ﷻ telah mengambil ruhnya.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah ﷻ tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539)

😭😭 mungkinkah seorang pendosa seperti saya ini, bisa meninggal begitu indah seperti cerita ini.