Saya sedang membuka catatan di evernote. Membuka-buka catatan yang kadang saya tuliskan di sana. Pekan ini sedang mentok ide buat menulis. Ketika sedang menggulir ke bawah, jari saya tertahan pada satu judul tulisan “Kandang Ayam”. Saya membuka catatan tersebut dan seketika hati mencipta harunya sendiri. Sebuah narasi yang saya tulis di tahun 2016 untuk sebuah komunitas. Narasi yang ditulis untuk mengetuk hati orang-orang baik agar turut membantu seorang gadis belia, sebut saja Juita.
Juita, ia lahir tahun 1998 silam. Ia mempunyai seorang ayah berumur 51 tahun yang ketika itu bekerja serabutan. Sementara, ibunya berumur 43 tahun. Juita adalah anak tertua dengan dua adik perempuan. Mereka hidup dengan segala keterbatasan. Seringkali Juita tidak masuk sekolah. Ia malu karena urusan administrasi sekolah tak kunjung bisa diselesaikannya. Selain itu, ia juga tidak memiliki seragam sekolah yang layak. Seragam sekolah satu-satunya yang dimiliki pun merupakan hasil pemberian dari kakak kelas yang sudah lulus. Dalam sepekan terpaksa ia tak berganti seragam.
Orang tua Juita seringkali diundang pihak sekolah terkait tunggakan administrasi sekolah, tapi sayangnya mereka tak pernah bisa memenuhi undangan sekolah. Pihak sekolah juga sudah mencoba mencari kediaman Juita dengan berbekal informasi dari Juita. Mereka gagal menemukan rumah Juita karena ternyata Juita menutupi kebenaran tentang tempat tinggalnya. Pada akhirnya, ketika Juita masuk sekolah, ia diminta untuk menunjukkan langsung tempat tinggalnya.
Tak dinyana, ternyata Juita dan keluarganya tidak tinggal di rumah BTN seperti yang diceritakannya. Ia beserta keluarganya justru tinggal di sebuah kandang ayam yang sedang dikosongkan. Di atas kompleks kandang ayam itulah dibuat bilik berdinding. Sebagian sisinya dari triplek dan sebagian lainnya dari kayu seadanya. Ada juga sisi lain yang dibiarkan terbuka tanpa dinding.
Selain Juita, adik bungsunya saja yang masih beruntung bisa sekolah karena Sekolah Dasar di daerahnya tidak membebankan SPP. Sementara, kakak si bungsu terpaksa harus putus sekolah karena ketiadaan mereka.
Ini adalah satu dari berjuta kisah getir dari anak-anak yang punya mimpi besar untuk tetap sekolah di negeri ini. Ada banyak lagi kisah mereka yang seringnya tersisih di sudut-sudut peradaban. Terlupakan oleh perut yang terlampau kenyang. Terhinakan oleh jiwa yang kurang bersyukur. Luput dari mata yang sedang berbinar memantau barang-barang flash sale. Padahal sebenarnya, kita sedang nebeng hidup kepada orang-orang lemah seperti Juita. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Nasa’i, “Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, salat dan keikhlasan mereka.”
Mari mulai bersama-sama menumbuhkan kepedulian. Mulai membuka mata lebih lebar, melihat ke kanan, kiri, depan dan belakang. Bantu mereka sedaya upaya dengan melibatkan para sejawat. Semoga hal itu, kelak dapat menjadi salah satu pembelaan kita di mahkamah Allah ﷻ.
