Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Mewariskan Ilmu

Saya mengingat betul ucapan yang acap disampaikan Mama. Kurang lebih seperti ini, “Mama dan juga Papa mungkin takkan bisa mewariskan harta yang berlimpah agar kalian kaya. Tapi, Mama dan Papa akan berjuang agar kalian semua kaya akan ilmu. Harta bisa saja habis, tapi kalau ilmu takkan pernah habis meski dibagi.”

Ucapan ini acap kali disampaikan kepada kami untuk menyemangati. Mereka kala itu mendidik kami dengan disiplin tinggi. Ada aturan tidak tertulis yang wajib dipatuhi. Tentang kapan waktu belajar, kapan bisa pergi bermain dan kapan harus membantu orang tua. Ketidakpatuhan pastinya akan berujung kepada punishment yang tentunya tidak kami harapkan. Dan saya menjadi saksi kesungguhan tekad mereka, tertungkus lumus untuk menyekolahkan kami hingga mendapatkan pendidikan yang memadai. Akhirnya harus disadari bahwa warisan ilmu adalah warisan terbaik yang mereka wariskan.

Belakangan, saya baru tahu ternyata beberapa ulama besar juga lebih serius lagi dalam mewariskan ilmu kepada anak-anaknya. Sejumlah kitab besar yang sekarang banyak dikenal dan dikaji masyarakat ternyata adalah karya para ulama yang secara khusus ditulis untuk anak-anak mereka. Berikut beberapa karya tersebut yang saya kutip dari buku Sentuhan Parenting karya Ustadz Budi Ashari, Lc :

  1. Bulughul Maram, merupakan kitab hadits yang diurutkan berdasarkan urutan fikih dan ditutup dengan adab buah karya Ibnu Hajar. As-Sakhawi dalam al Jawahir wad Durar menyampaikan, “Aku pernah mendengar bahwa ayahnya (Ibnu Hajar) mengarang Bulughul Maram untuknya (Muhammad, anaknya).”
  2. Washiyyah Abil Walid Al Baji Liwaladaihi, merupakan kitab yang berisi nasihat mulai dari perihal aqidah, ibadah hingga muamalah. Kitab ini merupakan karya seorang ulama besar Andalus bernama Abul Walid Al Baji sebagai nasihat untuk kedua anak laki-lakinya.
  3. Talqin Al Walid Ash Shaghir, merupakan kitab hadits yang peruntukan awalnya untuk anak-anak. Kitab ini disusun atas permintaan seseorang kepada Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman al Azdi. Orang tersebut berkeinginan agar anaknya mendapatkan berkah dengan menghafal hadits-hadits Rasulullah ﷺ dalam kitab tersebut.
  4. Washiyyah Muhammad ibn Musa Libnihi, merupakan kitab yang cukup unik karena nasihat yang disampaikan dalam kitab ini ditulis dalam bentuk 300 bait puisi (syair). Karya Muhammad bin Musa atau yang lebih dikenal dengan Ibn ‘Ammar Al Kala’i Al Miyuriqi ini ditulis untuk anaknya yang bernama Hasan.
  5. Laftatul Kabad fi Nashihatil Walad, merupakan kitab yang berisi kumpulan nasihat dan ditulis oleh Ibnul Jauzi untuk putranya yang bernama Abul Qosim.

Tidak hanya ini, ada banyak lagi kitab yang didedikasikan oleh para ulama untuk anak-anak mereka atau anak-anak orang lain. Dan yang yang patut dibanggakan bahwa karya yang awalnya diperuntukkan untuk anak-anak tersebut telah membawa manfaat yang lebih luas bagi berbagai kalangan khususnya untuk kaum muslimin, menjadi bahan kajian rutin pada banyak tempat di dunia.

Ustadz Abdul Somad pernah menyampaikan, “Menulislah, supaya orang di masa yang akan datang tahu bahwa kau pernah hidup di masa lalu.”

Menulis memang tak hanya sebatas sarana eksistensi diri. Tapi ini merupakan tradisi yang baik dan patut dicontoh dari kebanyakan ulama di masa lalu hingga sekarang. Mereka mengikat ilmu dengan menulis, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Umur kita di dunia boleh jadi tidak lama, namun umur kebaikan yang kita sampaikan melalui tulisan bisa jadi jauh melampaui masa hidup kita di dunia dan inilah investasi jariah yang akan terus mengucurkan keuntungan.

Winter photo created by freepik – www.freepik.com

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top