Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Sebelum Memilih Bercerai

Satu waktu seseorang hendak berkunjung ke rumah Amirul Mukminin, Umar radhiallahu’anhu. Setiba di depan pintu Umar radhiallahu’anhu ia malah berbalik kembali, tidak jadi bertamu ke rumah Umar radhiallahu’anhu. Mulanya ia hendak mengadukan kelakuan istrinya. Namun, ketika berada di depan pintu Umar radhiallahu’anhu terdengar olehnya istri Umar radhiallahu’anhu pun sedang mengeluarkan kata-kata keras kepada Sang Amirul Mukminin.

“Apalah awak nih?”, pikirnya. “Orang sekaliber Umar radhiallahu’anhu saja memilih diam ketika istrinya berkata keras.”

Beberapa saat ketika ia hendak meninggalkan rumah Umar radhiallahu’anhu, Sang Amirul Mukminin keluar rumahnya dan melihatnya. Lantas memanggil dan menanyakan keperluannya bertamu ke rumah Umar radhiallahu’anhu.

Sang Tamu kemudian berkata bahwa ia mulanya hendak mengadukan perihal istrinya kepada Amirul Mukminin, Umar radhiallahu’anhu. Namun, setelah ia mendengar apa yang dikatakan oleh istri Umar radhiallahu’anhu kepada Sang Amirul Mukminin serupa dengan apa yang dikatakan istrinya, ia memilih kembali dan tidak jadi mengadukan hal tersebut.

Umar radhiallahu’anhu kemudian berkata, “Sesungguhnya aku sabar terhadap istriku karena ia mempunyai hak terhadapku. Karena ia pemasak makananku, pemanggang rotiku, pencuci pakaianku, penyusu anakku. Padahal itu bukanlah kewajibannya. Dan hatiku tenang karenanya, tidak tergoda oleh yang haram. Karenanya aku sabar menghadapinya.”

Sang Tamu menyambut, “Wahai Amirul Mukminin, begitu pula istriku.”

“Sabarlah menghadapinya, karena itu hanya sebentar saja,” nasihat Umar radhiallahu’anhu.

Sosok Umar radhiallahu’anhu dikenal sangat tegas, sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Bahkan setan pun dikatakan lari ketakukan jika bertemu Umar radhiallahu’anhu. Jika berpapasan dengan Umar radhiallahu’anhu dalam satu jalan maka setan pun akan memilih jalan lain yang tidak dilalui Umar radhiallahu’anhu. Tapi, lihatlah bagaimana sikap Sang Amirul Mukminin ketika istrinya berkata-kata keras kepadanya.

Saya menikah tahun 2007 silam dan bahtera rumah tangga memang tak selamanya tenang. Sesekali ombak menggoyang kapal, tak jarang badai hebat pun datang seolah hendak meluluhlantakkan kapal. Saya pun belajar dari sikap Umar radhiallahu’anhu ketika hubungan sedang tidak harmonis. Menahan diri untuk diam semampunya lantas mencari ‘udara segar’ beberapa saat sedikit jauh dari rumah. Menenangkan diri, mengingat masa-masa indah dalam pernikahan, mengingat kebaikan-kebaikannya, melupakan sejenak keburukannya dan menghadirkan wajah anak-anak yang masih mengharapkan kita berdua untuk terus mengemudikan kapal hingga ke pelabuhan terakhir.

Perjalanan ini memang tidak mudah. Saya dulu pernah menempelkan tulisan di kubikel kerja saya sebagai motivasi pribadi, ANDAI SEMUANYA MUDAH HIDUP TAKKAN INDAH. Jangan terburu-buru mengambil sikap apalagi ketika hati sedang semrawut. Nabi ﷺ memberi nasihat, “Ketenangan dalam bertindak datangnya dari Allah, sedangkan ketergesaan datangnya dari syaitan.” (Hadits Hasan, Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Sabarlah menghadapinya, karena itu hanya sebentar saja.

Kids photo created by freepik – www.freepik.com

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top