Terdapat sebuah potongan kisah yang cukup masyhur, Abu Bakar dan Hanzalah radhiyallahu’anhuma datang ke rumah Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ menjemputnya dengan senyuman tulus sebagaimana layaknya menyambut seorang kawan setia, “Ada apa denganmu wahai Hanzalah? Mengapa engkau menangis?”
Hanzalah menjawab, “Aku merasa dihinggapi sifat munafik, wahai Rasulullah ﷺ. Bagaimana tidak, saat duduk di sampingmu dan mendengarkan petuah dan bimbinganmu aku merasa demikian yakin. Namun, saat aku kembali lagi bercengkerama dan bersenda gurau dengan keluargaku, aku pun lupa semuanya dan kufur kepada Allah ﷻ.”
Rasulullah ﷺ kemudian berkata, “Kalau seandainya kalian terus berada di sisiku –untuk diingatkan surga dan neraka– maka para malaikat pasti menghampiri majelis-majelis dan berjabatan tangan dengan kalian. Para malaikat juga menghampiri kalian di jalan dan di atas pembaringan. Akan tetapi, wahai Hanzalah, sa’atan-sa’atan -segala sesuatu ada waktunya-” (Semua ada Saatnya, Hal. vi)
Tak dapat dipungkiri, memang tak mudah untuk selalu berada dalam ‘keseriusan’, ada saatnya memberi jeda bagi raga dan jiwa untuk menepi dari rutinitas. Memberi ruang untuk kembali belajar hal-hal baru ataupun mengulang kaji lama. Mengasah ulang pedang yang mulai tumpul karena terus-menerus dipakai berjuang.
Kemarin genap 12 hari saya istirahat dari kebiasaan untuk menuliskan apa saja di blog sederhana saya. Sekedar memberi ‘koma’, agar tulisan tak terlampau panjang dan membosankan.
Kalau kalian pernah membaca buku La Tahzan (versi terjemahan Bahasa Indonesia), karya fenomenalnya Dr. ‘Aidh al-Qarni. Setiap beberapa tulisan akan diselingi oleh REHAT. Seolah memberi koma antara tulisan satu dengan tulisan yang lain.
Ada saatnya perahu lelah berlayar, menepilah sejenak ke pantai. Memberi waktu untuk memulihkan tenaga yang terkuras diombang-ambing angin dan ombak. Ia butuh istirahat agar esok atau lusa bisa berlayar dengan gagah lagi. Jangan memaksa terus berlayar, agar tidak justru karam di tengah lautan.
