
Alkisah ada seorang pemuda sedang dirundung masalah kehidupan yang sepertinya tak kunjung berakhir. Sahabatnya menyarankan untuk menemui seorang sepuh yang terkenal bijak dan tinggal di sebuah perkampungan.
Berangkatlah sang pemuda tersebut dengan membawa perbekalan untuk di jalan secukupnya. Beberapa hari kemudian tibalah ia di kampung yang ditunjukkan oleh sahabatnya.
Setelah memasuki kampung, ia harus berjalan lagi sekitar lima kilometer ke arah barat untuk sampai ke rumah sesepuh yang bijak itu. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya sampai juga ia di depan pintu sebuah rumah kampung yang sangat sederhana.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk nampaklah seorang lelaki sepuh yang air mukanya terlihat bahagia. Lelaki sepuh itu mempersilakannya duduk dengan ramah. Setelah berbasa-basi sekedarnya, berceritalah sang pemuda tentang segala permasalahan hidupnya. Lelaki sepuh tersebut mendengar dengan penuh perhatian tanpa menyela sedikit pun.
Setelah mendengar cerita pemuda itu, ia tak segera memberikan jawaban. Ia malah pergi ke dapur dan menyuguhkan segelas air putih yang telah ditambahkannya dengan tiga sendok garam, diaduknya di dalam gelas tadi agar tercampur rata dan tidak diketahui sang pemuda. Dipersilakannya sang pemuda meminum air tadi. Karena asinnya sang pemuda yang tidak menyadari ada garam di dalam air minumnya menyemprotkan air yang diminumnya. Lelaki sepuh itu tersenyum demi menyaksikan hal tersebut. Sementara lelaki itu tampak kebingungan dengan sikap lelaki sepuh.
Kemudian dibawalah sang pemuda ke danau berair jernih tak jauh dari rumah lelaki sepuh tadi. Ia kembali menaburkan tiga sendok garam ke danau yang luas. Disuruhnya sang pemuda meminum air di danau yang sudah ditaburkan tiga sendok garam, ia merasakan kesegaran air danau yang khas.
Berkatalah lelaki sepuh, “Aku menaburkan kadar garam yang sama di gelas dan di danau ini. Namun, engkau merasakan kepahitan ketika meminum air di gelas tapi justru merasakan kesegaran ketika meminum air danau. Pahamilah, bahwa sebesar apapun kadar masalahmu yang perlu engkau lakukan hanyalah menyediakan hati seluas danau ini.”
