Ikhlasnya hati sering kali disalah arti, tulusnya cinta tidak pernah engkau hargai.. Kok malah nyanyi? Lagu dari negeri jiran satu ini memang cukup populer bagi generasi 90-an. Tapi, saya tidak sedang ingin menyanyi. Takut jadi populer hahaha…
Ini cerita liburan yang ‘gagal’. Niatnya tanggal merah kemarin kepingin me time, menamatkan novel Selamat Tinggal dari Tere Liye yang baru dibeli sepekan yang lewat. Sayangnya, hingga menjelang tidur novel itu tak tersentuh sama sekali. Selepas subuh hingga menjelang magrib malah sibuk mengerjakan ‘proyek’ yang dulu pernah dijanjikan kepada istri. Andai saja saya tak menunda-nunda menunaikan janji, mungkin me time saya kemarin akan tunai.
Sebelumnya saya selalu mencari alasan ketika istri meminta untuk memermak laman jualan miliknya. Tidak sepenuhnya karena malas, sesekali juga karena kelelahan yang sangat. Tapi, kemarin saya tak bisa lagi mengelak menunaikan janji tersebut. Jadilah saya harus mengorbankan me time dan terpaku di depan monitor seharian.
Saya beberapa kali terjebak dalam situasi serupa dan penyebabnya karena mencari alasan, menunda pekerjaan. Pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan seketika akhirnya akan menumpuk di waktu mendatang. Dan yang justru lebih berbahaya lagi, mencari alasan kadang membuat terjebak dalam ketidakjujuran sendiri. Dan ketidakjujuran ini bisa menjadi pangkal dari segala keburukan. Dalam kasus yang lebih serius kerap kita dengar ketidakjujuran yang berujung melayangnya nyawa seseorang. Naudzubillahi min dzalik.
Ngomong-ngomong, ini laman jualan milik istri saya. Laman ini sendiri sudah dimiliki sejak Juni 2020 lalu dan sudah dimanfaatkan sebagai salah satu media penjualan. Saya coba poles sana-sini dengan segala keterbatasan kemampuan dan peralatan pendukung yang saya miliki. Ya, harapannya agar terlihat lebih menarik. Alhamdulillah, istri suka dengan hasil kerja sederhana saya ini dan semoga kamu juga suka dengan penganan yang dijajakan di laman online tersebut. Order ya, Gaeezz! ?
