
“Dang, dari bak kari sampai seminggu ke depan kau yang masakkan urang di rumah*,” pinta Mama tegas satu pekan menjelang saya pisah dapur dengan keluarga.
Pekan depan saya sudah harus ke kota. Melanjutkan pendidikan di sebuah SMA yang cukup populer di ibukota, Palembang. Saya tak tahu rasa apa yang dipendam oleh orang tua saya terutama Mama menjelang saya harus berpisah cukup lama dengan mereka. Tapi, satu pekan ini Mama memaksa saya harus belajar memasak. Mama hanya membagikan beberapa tips dan perhitungan dalam memasak sisanya Mama tidak terlibat sama sekali. Sepekan ini sesekali masakan saya dipuji, lain waktu menjadi kacau tak menentu. Tapi, akhirnya saya terpaksa harus diwisuda sebagai “Koki Sepekan” apapun hasilnya.
Hasil didikan sepekan tersebut ternyata berdampak cukup panjang dalam kehidupan saya, karena dari sejak itu saya masih terus merantau hingga kini. Memasak menjadi satu keharusan demi alasan penghematan dan juga selera.
Ketika sudah berkeluarga, sesekali saya juga memasak untuk keluarga di rumah, ada satu masakan sederhana yang mereka sukai namanya semur telur. Masakan sederhana sebenarnya, tidak butuh bumbu yang aneh-aneh. Cukup siapkan telur, bawang merah, kecap manis, garam, merica dan air. Bawang merah yang disiapkan secukupnya dipotong-potong dan digoreng sebentar hingga mulai harum. Masukkan air kemudian kecap manis, garam dan juga merica. Setelah dirasa cukup pas di lidah, tinggal pecahkan telur langsung di atas kuah yang sedang terjerang. Oh iya, kulit telurnya jangan dimasukkan ya, hehe.
Ada juga nasi goreng yang menjadi andalan saya dan sangat disukai di rumah. Bumbunya juga sangat sederhana, hanya bawang merah, daun bawang (opsional), kecap manis, garam dan tentunya nasi putih. Meski sederhana ternyata mampu mengalahkan nasi goreng istri saya dengan bumbu yang lebih lengkap. Wow!!!
Tapi, memasak wajib telaten tak bisa sembarang. Mulai dari paduan bumbu yang harus diperhatikan, karena saya sendiri pernah membuat masakan dengan paduan bumbu yang justru membuat saya muntah karena rasanya tak karuan. Satu lagi, keselamatan diri harus sangat diperhatikan karena kita bermain dengan api dan segala sesuatu yang panas.
Ada kejadian yang cukup membekas ketika saya memasak. Bekasannya tak hanya lekat di ingatan. Tapi, juga tergurat di tangan kanan saya sampai kini. Kejadiannya ketika masih kuliah waktu itu. Seperti biasa saya pergi ke dapur menyiapkan masakan. Saat sedang menekan kerupuk yang sedang digoreng tiba-tiba spatula untuk menggoreng patah dan seketika itu kuali yang sedang berisikan minyak panas terbalik dan minyaknya mengenai jari-jari hingga ke siku di bagian kanan. Panik karena panas malah saya siramkan air ke tangan. Tahu dong kemudian apa yang terjadi dengan tangan saya, menggelembung.
Saya langsung pergi ke wartel beberapa saat setelah itu, memberi kabar ke kampung melalui telepon. Mama yang panik bersegera ke kota, butuh waktu satu hingga dua jam untuk sampai ke kota dalam keadaan normal. Kemudian langsung dibawanya saya ke UGD RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Oleh tenaga medis di sana tangan kanan saya langsung diguyur dengan semacam air infus, saya tak ingat betul, hanya rasa dinginnya di tangan yang sangat saya ingat. Kemudian, bagian permukaan kulit diangkat, setelah itu dioleskan semacam salep. Ada beberapa bagian kulit yang kemudian kembali normal. Namun, ada beberapa bagian di dekat jari kanan dan pergelangan yang masih belum bisa kembali normal. Apa pun itu, kejadian itu tak lantas menyurutkan saya untuk pergi ke dapur. Memasak memberikan sensasinya sendiri.
Beberapa hari belakangan, anak bungsu saya yang masih TK. Mendapat tugas mulai dari membuat minuman hangat sendiri, memasak sayur sampai membuat jamu, tentunya harus tetap dalam pengawasan orang tua. Saya pikir ini satu pembiasaan yang baik agar anak kelak dapat mandiri. Mulanya masih takut-takut mendekati kompor. Namun, kemudian ia malah senang bisa menyiapkan makanan dan minumannya sendiri.
Jadi, jangan takut dan ogah ke dapur. Masa kalah sama anak TK? Hehehe…
*Dang (nama kecil saya di rumah), mulai sekarang sampai satu pekan ke depan kamu yang memasak untuk orang di rumah
