
Saya akhirnya pergi les bahasa inggris siang itu memakai kacamata Ayuk (kakak perempuan). Sementara, Ayuk berpura-pura tidur di kamarnya hingga saya pulang les. Demikian skenario yang dibuat Ayuk agar orang tua tidak curiga. Sudah beberapa hari ini fokus penglihatan saya semakin menurun. Hal ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Tapi saya memilih menahan diri untuk menyampaikan kepada keluarga. Ayuklah orang pertama yang akhirnya saya beritahu, selalu menjadi orang pertama tempat saya berkeluh kesah hingga kini.
Skenario ini berjalan beberapa kali. Tapi sayangnya tidak bisa dijalankan ketika sekolah di pagi hari. Di sekolah saya tetap mengandalkan ‘nyontek‘ catatan kawan semeja karena hanya bayang-bayang saja yang terlihat di papan tulis.
Semakin lama semakin tidak nyaman dengan keadaan, saya kemudian memberanikan diri mengadukan kesulitan penglihatan saya. Tidak langsung, melalui surat. Ditulis agak malam biar tidak ada yang tahu. Setelah itu, surat diselipkan di atas lemari tape (pemutar kaset) kesayangan Papa.
Pagi-pagi betul, walau tanpa kurir surat itu segera sampai dan menggemparkan seisi rumah. Kegemparan yang tak kami sukai. Saya yang lagi lelap, terbangun seketika, seolah tak sadar bahwa sayalah biang onar kegemparan pagi itu. Pagi itu cerah sekali tapi kelam buat saya. Kami terbiasa tidak ingin menyusahkan orang tua meski ketika itu Papa masih dalam keadaan cukup lapang. Bukan masalah harga kacamata, yang menjadi masalah adalah kenapa kami bisa berkacamata. Berkacamata di keluarga kala itu menjadi sesuatu yang tabu.
Setelah mendengar dan mengiyakan seluruh isi ceramah pagi itu pada akhirnya orang tua membawa saya juga ke dokter. Dokternya tidak ingin terburu-buru, saya diperiksa dengan teliti. Sekali dalam sepekan selama satu bulan saya menumpang bus sepulang sekolah menjumpai Papa di tempat kerjanya di kota baru kemudian kami ke dokter.
Empat pekan berlalu, dokter kemudian dengan yakin memberikan vonis bahwa saya miopia. Resep dari dokter dibawa ke optik, resmilah sudah saya jadi pemakai kacamata. Ketika itu saya sudah kelas 3 SMP.

🥲🤗