Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Pemahat Bukit Batu

Kawan dudukku menyoal, “Kenapa tak kau pilih saja bukit batu indah yang ditawarkan oleh para pemahat sepuh? Kau tak perlu menghabiskan banyak energi dan waktu demi memahat bukit batumu sendiri. Tinggal memoles dan mengukir sedikit, dan bertambah indahlah bukit batumu.”

Soalan dan hujjahnya tak sedikit pun menggoyahkan azzamku. Kukatakan tekadku memilih bukit batuku sendiri yang masih belum terbentuk dan terjamah. Aku ingin memahat bukitku sendiri, membentuknya sendiri dan mengukir sejarahku sendiri di atasnya. Aku tak hendak pongah di hadapan para pemahat sepuh. Hanya saja aku ingin ada bekas pahatanku yang esok bisa kubanggakan setelah dunia berakhir.

Kawan, ragaku seumpama semut dibanding bukit batu yang telah kupilih. Aku sendiri bahkan tak yakin bukit batu ini akan selesai kupahat hingga gerakku dihentikan Sang Pemilik Kehidupan. Tapi, Kawan. Bukankah dulu guru mengaji kita di kampung mengatakan Tuhan tidak melihat hasil tapi melihat seberapa jauh kita berbuat untuk mendapatkan hasil?

. . . . .

Pagi ini aku seolah lupa dengan tekadku satu dasawarsa lampau. Teriak lelahku pagi ini di antara bukit batu memecah heningnya dingin pagi. Tuhan, aku lelah. Aku menyerah!

Dinding batu ini kemudian seolah berujar. Ada apa dengan tekadmu dulu? Kemanakah perginya geloramu dulu? Tak ada yang sia-sia atas apa yang telah dilakukan sepuluh tahun ini. Berjalanlah agak jauh dari bukit batumu, akan terlihat hasil pekerjaanmu selama ini. Mulai terlihat keindahan di beberapa titik walau belum sempurna adanya.

Engkau telah memahat bukit batu ini sepuluh tahun lamanya, lantas hendak surut jauh ke belakang karena kelelahan sesaat? Sejarah seperti ini yang hendak kau ukir? Pengecuut!!

Belajarlah dari Ibnu Hajar al-Asqalani, ketika melarikan diri dari bangku madrasah karena merasa putus asa. Dia belajar sesuatu ketika berteduh di sebuah gua. Tampak olehnya tetesan air hujan yang istiqomah telah menembus kerasnya batu. Lihatlah, orang beriman setiap kejadian menjadi pelajaran baginya.

Tarik nafasmu sejenak, rehatlah sebentar ketika raga dan jiwamu lelah. Setelah itu kembalilah pahat dan ukir mimpimu.

Andai kau bersungguh-sungguh, bukit batu ini pun bisa kau lebur semaumu.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut[29]:69)

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top