
Badai adalah cara indah Allah untuk menguatkan kembali ikatan cinta kita yang kadang longgar di laut tenang. Walau kadang tenaga kita terkuras untuk kembali mengikatkan tali yang longgar, namun percayalah makin hari kita akan makin belajar cara membuat simpul terbaik yang tak mudah dilonggarkan badai sekalipun.
Tiga belas tahun silam, di tanggal dan bulan yang sama, kita memulakan safar bersama, berbiduk rindu yang suci dan sederhana. Rindu yang mulanya selalu tampak sempurna tak bercelah.
Tiga belas tahun bukan sesaat, tapi tak juga dapat dikata sekejap. Biduk tak selalu damai tenteram, berkali terombang-ambing, terhempas badai bahkan hampir karam.
Kita pernah teramat lelah, namun terus menolak menyerah. Bukankah pelaut andal tak lahir dari laut yang ramah?
Tiga belas tahun bisa jadi bukan prestise. Karena sejatinya prestise ketika kita mampu mengarungi kehidupan sesuai petunjuk-Nya dan menepi kembali dalam kebahagiaan abadi.
Terima kasih telah berlelah memahami, menolak menyerah meski lautan dunia tak selalu ramah. Semoga kita dapat menyelesaikan safar ini dengan bahagia.
In frame : Kawan bersilat, kawan bergelut dan kawan curhat yang selalu bahagia, terbukti dari timbangan yang secara teratur bergerak ke kanan. Semoga sehat selalu sampai lebaran kurban ?
