Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Stand in Someone’s Shoes

Stand in someone’s shoes means to see or understand things from someone else’s position or perspective; to emphatize with someone; to see from another’s point of view; to feel what another feels.

Saya baru saja membuka halaman awal Novel Alunan Tempias Iman karya Carolina Destika. Ada sebuah pengantar yang sangat menggugah dari Cahyadi Takariawan. Saya mengutip beberapa kalimat beliau. Begini tulis beliau, “Saat melihat seseorang tertawa bahagia, kita mengganggap dia adalah orang merdeka dari beban. Padahal, bisa jadi, dirinya tengah menyembunyikan hebatnya pertempuran yang sangat menekan. Saat menyaksikan seseorang menangis, jangan menuduhnya cengeng karena kita tidak pernah tahu sedahsyat apa pertempuran yang tengah dia rasakan.”

Dalam sebuah pelatihan yang saya pernah ikuti, pengajar pernah menyampaikan lima hukum komunikasi efektif salah satunya adalah empati (empathy). Dan menempatkan kaki kita di sepatunya orang lain (stand in someone’s shoes) merupakan salah satu perwujudan empati yang harus kita tunjukkan. Artinya kita memposisikan diri sendiri pada posisi lawan bicara demi lebih dapat memahami apa yang dialami lawan bicara.

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang ulama besar bernama Hasan al-Bashri yang pernah saya baca di salah satu literatur. Beliau adalah ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah. Suatu waktu Hasan al-Bashri didatangi oleh sekelompok budak. Mereka kemudian menyampaikan harapan agar pada jumat mendatang Hasan al-Bashri mendorong orang-orang islam untuk memerdekakan budak-budak mereka. Hasan al-Bashri mengiyakan permintaan mereka.

Jumat demi jumat berlalu, namun apa yang dijanjikan oleh Hasan al-Bashri belum juga ditunaikan. Para budak mulai gusar karena Hasan al-Bashri tak jua menyampaikan khutbah seperti yang mereka inginkan.

Namun akhirnya, beberapa pekan kemudian Hasan al-Bashri menyampaikan khutbah yang mendorong kaum muslimin untuk memerdekakan budak-budak mereka. Setelah itu, banyak kaum muslimin yang terdorong untuk memerdekakan budak-budak mereka.

Sekelompok budak yang sebelumnya melakukan permintaan kepada Hasan al-Bashri, kemudian kembali menjumpai Hasan al-Bashri. Tapi, kedatangan mereka bukan untuk berterima kasih melainkan menyampaikan komplain karena Hasan al-Bashri menunda-nunda menunaikan apa yang mereka minta sebelumnya.

Hasan al-Bashri kemudian menyampaikan, bahwa yang membuatnya menunda menyampaikan khutbah yang mereka minta sebelumnya adalah karena beliau belum memiliki cukup uang untuk membeli budak. Beliau berkeinginan untuk lebih dulu mengamalkan nasihat yang hendak disampaikan. Hal itu tentunya akan memberi efek yang lebih kuat kepada orang yang diberikan nasihat.

Selain alasan yang diungkapkan oleh Hasan al-Bashri, mungkin ada satu lagi yang bisa dimaknai dari apa yang dilakukan oleh beliau. Hasan al-Bashri sepertinya sedang mencoba stand in someone’s shoes. Beliau hendak memposisikan bagaimana jika beliau sebagai orang yang memiliki budak dan kemudian diminta untuk memerdekakan budak tersebut. Beliau menunjukkan satu bentuk empati nyata kepada kaum muslimin yang memiliki budak kala itu. So, be empathy. Empathy is so cool ?

People photo created by marymarkevich – www.freepik.com

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top