Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Presence More Than Presents

waktu buat anak

Your children need your presence more than your presents, begitu seorang kawan menulis. Saya lantas terpekur sejenak demi memikirkan kata-katanya tersebut. Sebuah tanya kemudian muncul di hati. Apakah saya sudah hadir untuk anak-anak saya? Kadang pun saya hadir secara fisik di hadapan mereka namun kemudian apakah saya juga menghadirkan hati saya ketika berkumpul bersama mereka? Berapa banyak cerita mereka yang kemudian terabaikan karena saya tak mendengarkan mereka dengan sepenuh hati.

Saya kemudian terusik untuk membuka-buka lembaran nasihat berharga dari Ustadz Budi Ashari, Lc di dalam Sentuhan Parenting. Sebuah buku yang masih terbungkus rapi, semoga saja belum terlalu terlambat untuk kembali belajar meski ketiga anak kami saat ini satu persatu akan beranjak remaja. Sampailah saya pada kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam tentang kisahnya yang digoda oleh wanita cantik, istri penguasa tertinggi. Wanita itu tertarik kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam demikian juga Nabi Yusuf ‘alaihissalam mulai tergoda dengan rayuan sang wanita, apalagi hanya ada mereka berdua di kamar.

Tapi, kemudian Nabi Yusuf ‘alaihissalam mampu menolak semua syahwat yang mulai meninggi saat itu. Padahal bukan mudah untuk memadamkan syahwat yang mungkin sudah sampai ke ubun-ubun. Lantas apakah yang kemudian membuat Nabi Yusuf ‘alaihissalam akhirnya memalingkan diri dari perbuatan keji tersebut?

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.” (QS. Yusuf [12]:24)

Tanda seperti apa yang kemudian Allah ﷻ tunjukkan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam?

Di dalam penjelasan tafsir Ibnu Katsir disampaikan bahwa tanda tersebut ialah Nabi Yusuf ‘alaihissalam melihat wajah ayahnya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam sedang menggigit jarinya dengan mulutnya. Di riwayat lain, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam memukul dadanya. Dalam pendapat lain, Nabi Yusuf ‘alaihissalam melihat wajah ayahnya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, wajah yang selalu dibanggakannya, sedang menggigit-gigit jarinya sambil berkata, “Yusuf! Yusuf!”

Masih terdapat banyak pendapat serupa lainnya. Tapi, pelajaran yang kemudian bisa diambil adalah betapa kenangan, kebanggaan dan kedekatan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan ayahnya memberikan pengaruh yang baik di dalam hatinya meskipun ia sudah terpisah bertahun-tahun lamanya.

Di saat-saat sulit itu wajah ayahnya, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, hadir lengkap dengan ekspresi kekecewaan dan kemarahan. Rasanya tidak mungkin wajah sang ayah akan hadir kalau keduanya tidak memiliki kedekatan secara emosional.

Ustadz Budi Ashari, Lc kemudian menasihatkan, “Para ayah, kini mana wajahmu? Wajah yang membanggakan. Wajah ramah. Wajah penuh wibawa. Wajah sarat nasihat.”

“Para ayah harus menyediakan waktu untuk memperlihatkan itu semua di hadapan anak-anaknya. Dalam interaksi harian dan kebersamaan.”

“Jangan pernah lelah ya, Ayah. Karena engkaulah ayat Allah ﷻ untuk anak-anakmu di bumi ini.”

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top