Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Nabung, Bangun, Setop

bangun rumah

Konsep membangun rumah secara bertahap sebenarnya sering dilakukan oleh orang-orang di kampung saya kala itu. Namun sejak di kota, saya dikenalkan dengan konsep “Ngutang aja, biar praktis!” atau “Pegawai kalau gak ngutang gak bakal bisa” dan konsep-konsep serupa lainnya. Rumah kami di Pekanbaru dulu terbeli dengan konsep “ngutang” ini juga. Belakangan saya dikenalkan kembali dengan konsep “Nabung, Bangun, Setop” atau konsep “Direm dulu” dan sejenisnya.

Bagi sebagian orang konsep yang kami anut sekarang tampak tidak praktis dan sedikit merepotkan karena harus benar-benar disiplin dalam menabung dan memakan waktu yang lama. Bagi kami konsep ini justru lebih baik dan menenangkan karena kami tak perlu selalu merasa dikejar-kejar utang. Membangun rumah atau membeli sesuatu hanya sesuai kemampuan dan kebutuhan. Dan kalau kita coba benar-benar menghitung, justru semua jadi lebih murah dan waktunya lebih pendek. Rumah pertama kami yang dulu dibeli dengan cara “ngutang” diangsur kurang lebih 1,8 juta tiap bulannya sehingga kalau sepuluh tahun dan angsurannya tidak berubah nilainya menjadi 216 juta.

Saya pernah bertanya ke tukang di Pekanbaru waktu itu, untuk biaya pembangunan rumah kami itu kurang lebih 75 juta sudah termasuk upah tukang. Itu kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, setelah menabung sekitar 3 tahun kami bisa membangun rumah yang memang lebih kecil dari rumah pertama tapi dengan nilai biaya yang jauh lebih kecil sekitar 60% saja dari biaya membangun rumah sepuluh tahun lalu itu. Lebih murah dan singkat waktunya, kan?

Seperti saat ini, rumah yang sedang dibangun, kami rencanakan dibuat dua lantai mengingat lebar tanah kurang memungkinkan dibuat satu lantai. Modal bangunnya dari hasil penjualan angkot yang dulu juga dibeli dari hasil tabungan. Di awal ini rumah dibangun satu lantai dulu, kemudian kami akan menabung lagi dan akan melanjutkan pembangunan ketika tabungannya sudah cukup lagi, insyaAllah.

Sesuatu yang instan memang enak dan terasa lebih praktis kelihatannya. Tapi apa iya Anda mau makan mie instan tiap hari misalnya? Rendang saja yang katanya makanan terenak di dunia dimasak tidak sepraktis memasak mie instan.

Coba deh, saya yakin kita bisa asal sedikit bersabar dan disiplin dalam menabung.

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top