
“Bee… sudah lihat berita ini?” tanya istri suatu siang.
“Berita apa?” saya kemudian bangkit dan mendekatinya.
Ia kemudian menunjukkan sebuah potongan video satu keluarga yang tinggal di pinggiran ibu kota, terdiri dari Ibu dan dua anaknya yang mati tergantung, diduga memutuskan bunuh diri karena sudah beberapa hari tidak mampu memperoleh makanan. Hati saya perih teriris-iris. Saya kemudian beranjak dan melanjutkan shalat rawatib. Semenjak pandemi COVID-19, saya memutuskan mengikuti arahan ulama untuk sementara shalat di rumah. Tanpa sadar sepanjang shalat air mata saya mengalir tak terbendung demi membayangkan keluarga yang kelaparan tadi, kalau memang benar adanya berita tersebut, duhai alangkah malunya esok saya di hadapan Allah ﷻ.
Saya kemudian teringat seorang rekan kerja di Surabaya, Adang Juwanda namanya. Saya mengenalnya ketika sama-sama mengikuti pendidikan dan pelatihan di Jakarta. Kami sering bersama-sama di masjid kala itu. Saya melihat beliau sebagai sosok yang shaleh dan bersahaja. Setelah pendidikan dan pelatihan di Jakarta kami boleh dikatakan putus kontak cukup lama.
Saya akhirnya kembali berjumpa dengan Mas Adang di dunia maya. Berjumpa dalam satu gerakan mulia yang digagasnya akhir 2018 silam, Warung Makan Gratis. Beliau telah memulai langkah kecil, yang paling tidak besok bisa menjadi hujah di hadapan Allah ﷻ.
Memberi makan di dalam Islam memiliki keutamaan yang luar biasa, menjadi jalan untuk dapat melembutkan hati, mengundang ampunan Allah ﷻ dan menjadi wasilah untuk diselamatkan dari api neraka. Ingatkah kita kisah wanita pezina yang Allah ampuni tersebab memberi minum anjing yang kehausan dengan sepatunya di tengah terik? Sampai-sampai Rasulullah ﷺ menasihatkan, “Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim).
Puasa kali ini juga seharusnya memberi pengajaran tentang bagaimana rasanya lapar. Mengetuk nurani yang selama ini tertutup karena lebih banyak kenyangnya daripada laparnya. Alangkah malunya esok di hadapan Allah ﷻ andaikan ada di sekitar kita orang-orang yang lebih sering laparnya ketimbang kenyangnya dan kita tidak peduli.
