
Kamu tahu komik? Saya rasa tidak ada yang tidak mengenal komik. Cerita yang dilengkapi teks dan gambar atau info visual lainnya. Sejumlah sejarawan meyakini bahwa komik telah dimulakan oleh manusia purba pada lukisan yang berusia 17.000 tahun di Gua Lascaux Prancis.
Di Indonesia sendiri, sejarah komik Indonesia dimulai sejak kehadiran komik strip Put On pada harian Sin Po sekitar tahun 1930-an. Pada tahun 2013 Indonesia disebutkan menduduki peringkat kedua sebagai pembaca manga (komik khas Jepang) terbanyak setelah Finlandia.
Selain manga, belakangan di Indonesia muncul genre baru yang mulai populer dalam dunia perkomikan, komik Islam. Komik yang menawarkan keseruan dalam mengenal dan mempelajari kebaikan-kebaikan Islam. Saya belum menelusuri lebih jauh siapa yang mengawali komik Islam ini secara serius, sementara ini saya baru mengetahui bahwa Mas Veby Surya Wibawa dan Mas Tony adalah pionir perkomikan Islam di Indonesia.
Lah, kok jadi serius ceritanya ya. Tadinya cuma kepingin cerita tentang anak yang ketiduran sambil buka komik. Kembali ke laptop hehehe..
Nauzan yang tadi ketiduran sambil buka komik belum bisa baca, masih TK, harap maklum saja. Belakangan dia lekat sekali dengan salah satu seri dari Komik Pengen Jadi Baik ini. Kelihatannya gambar-gambar di komik mampu bercerita kepadanya.
Komik bisa menjadi cara yang ringan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Sudah saatnya stereotip kurang mendidik dari komik kita beri pengecualian. Sedih sekali, ketika suatu kali anak-anak membawa surat permohonan bantuan buku dari sebuah lembaga sosial. Mereka menyenaraikan komik sebagai salah satu pengecualian yang boleh disumbangkan.
Padahal di sejumlah tempat, media pembelajaran melalui komik telah dipakai sebagai suatu pendekatan pengajaran yang mudah diterima oleh anak-anak.
Lantas, ada pula perdebatan tentang boleh tidaknya menggambar di dalam Islam. Untuk kasus ini mungkin kita bisa membaca pandangan sejumlah ulama yang tertuang dalam bukunya Bang Dzia, Gambar Itu Haram?
Tapi, apa pun itu. Komik telah memberi warnanya sendiri dalam kehidupan manusia. Bisa jadi kesukaan kita terhadap literatur yang serius dan tebal-tebal dipicu oleh komik yang kita nikmati sewaktu masih kecil.
