Desrianza

Pelajar Cinta, Penari Kata, Perindu Surga

Surat dari Rumah

Bukittinggi, 24 Desember 2020

Assalamu’alaikum. Abang, apa kabarmu? Genap 13 hari Abang sudah di pesantren. Hari itu, pagi Jum’at, 11 Desember 2020 kami menitipkan Abang kepada Allah. Kami percaya hanya Allah yang akan bisa menjadi teman setia Abang selama berjuang menuntut ilmu. Semua tak kuasa menahan tangis melepas Abang bahkan Nauzan tangisnya menjadi-jadi, hanya Abee yang gengsian di depan umum.

Tega tak tega kami melepas Abang, ini kali pertama kita akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Tapi, ini sudah menjadi cita-cita Abang sejak masih sangat kecil.

Bang, kami kadang tak bisa lelap memikirkan Abang. Berat rasanya menahan haru. Ummee yang kadang sangat tegas dengan Abang, kemarin terisak ketika bercerita Abang menelpon ke rumah. Ummee sepertinya rindu, Bang. Begitu juga Abee. Sesekali Abee mengantar makanan ke pesantren tanpa sepengetahuan Ummee, menitipkannya di pos depan gerbang dan menatapi lekat gedung hijau itu demi menunaikan rindu.

Bang, kami tak kuasa menahan bangga melihat fotomu yang kadang dikirimkan dari asrama. Kami pun bertambah bangga mendengar kabar Abang rutin puasa sunnah. Baru beberapa hari Abang sepertinya sudah banyak berubah.

Bang, katanya ulama terdahulu juga banyak yang telah memulai rihlah menuntut ilmu semenjak belia ke negeri-negeri yang jauh dari kampung halaman mereka. Pernahkah Abang mendengar tutur Imam Syafi’i?

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Bang, tetaplah semangat. Jangan surut mengejar cita-cita, jalan pejuang memang tak seperti jalan pelancong. Raga kami memang tak selalu bisa hadir di sisimu, tapi percayalah do’a kami akan menemanimu sampai ujung waktu.

Dari Abee dan Ummee yang menyayangimu

Background photo created by kotkoa – www.freepik.com

Desrianza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top