
Habib Ali Al Kaff dalam satu ceramahnya menyampaikan sebuah kisah di zaman Rasulullah ﷺ yang cukup menghibur. Ada seorang laki-laki bernama Nu’aiman di zaman Rasulullah ﷺ. Nu’aiman merupakan ahli badar namun dikenal sering minum-minuman keras sehingga pernah dicambuk oleh Rasulullah ﷺ dan kemudian ia bertobat. Namun, setelah itu ia kembali mengulang melakukan hal yang sama, kemudian kembali dicambuk oleh Rasulullah ﷺ sampai-sampai para sahabat Rasulullah ﷺ pun ikut memukul dan melaknat Nu’aiman. Rasulullah ﷺ melarang para sahabat melaknat Nu’aiman dan mengatakan bahwa Nu’aiman mencintai Allah ﷻ dan mencintai Rasulullah ﷺ.
Dikisahkan Nu’aiman pernah satu kali membawakan makanan yang banyak dan diberikan kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Ketika semua selesai makan, kemudian Nu’aiman membawa sang penjual ke hadapan Rasululullah ﷺ, “Ya Rasulullah, ini penjual makanannya. Sekarang silakan bayar makanannya.”
Rasullullah ﷺ kaget namun kemudian memaklumi sikap Nu’aiman yang memang sering membuat gara-gara. Beliau ﷺ kemudian mengajak para sahabat mengumpulkan uang untuk membayar makanan tadi.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam musnadnya, pernah satu kali Nu’aiman diajak oleh Abu Bakar ke Negeri Syam setelah mendapatkan izin dari Rasulullah ﷺ. Selain Nu’aiman ada beberapa sahabat yang juga ikut dibawa oleh Abu Bakar, termasuk salah satunya Suwaibith Ibn Harmalah, ahli badar juga sebagaimana Nu’aiman. Sampai di Negeri Syam setiap orang mendapatkan tugas masing-masing, kecuali Nu’aiman tidak ada tugas khusus yang diberikan oleh Abu Bakar kepadanya. Sementara itu, Suwaibith Ibn Harmalah mendapatkan tugas untuk menjaga makanan karena dikenal sebagai sosok yang amanah.
Ketika siang datang Nu’aiman mulai merasakan kelaparan. Kemudian ia meminta makanan kepada Suwaibith Ibn Harmalah, namun ia menolak demi menjaga amanah dari Abu Bakar. Semua harus seizin Abu Bakar. Nu’aiman tetap memaksa meminta diberikan makanan dan mengancam akan membuat Suwaibith Ibn Harmalah marah apabila permintaannya tidak dipenuhi. Namun Suwaibith Ibn Harmalah tetap dengan pendiriannya.
Nu’aiman akhirnya pergi ke tempat penjualan hamba sahaya yang ada di pasar dan kemudian mendapatkan informasi bahwa harga budak yang dijual di pasar tersebut antara 100-300 dirham. Kemudian Nu’aiman menyampaikan keinginannya untuk menjual hamba sahaya yang ia miliki seharga 20 dirham (dalam referensi lain yang saya baca 20 unta bukan 20 dirham) lebih murah dari harga pasaran. Nu’aiman menyebutkan dijual dengan harga murah karena hamba sahayanya punya aib, nanti ketika mereka mendatanginya ia akan mengatakan bahwa ia orang merdeka bukan hamba sahaya.
Setelah sepakat dan bisa meyakinkan pembelinya, Nu’aiman akhirnya menunjukkan keberadaan Suwaibith Ibn Harmalah. Ia kemudian berucap , “Saya orang merdeka bukan hamba sahaya.”
Pembeli yang telah mendengar hal itu kemudian mengatakan, “Ia (Nu’aiman) telah memberi tahu kami bahwa kamu akan berkata demikian.”
Akhirnya, dibawalah Suwaibith Ibn Harmalah ke pasar untuk dijual. Sementara itu, Nu’aiman sibuk membelanjakan uangnya. Membeli makananan bahkan membelikan buah tangan untuk Rasulullah ﷺ. Setelah Abu Bakar kembali, ia mencari-cari Suwaibith Ibn Harmalah. Nu’aiman lalu menceritakan segala sesuatu apa adanya kepada Abu Bakar. Abu Bakar lantas berangkat ke pasar dan membeli lagi Suwaibith Ibn Harmalah.
Setelah pulang ke Madinah kisah ini disampaikan oleh Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ, beliau ﷺ tertawa sejadi-jadinya hingga menampakkan gigi gerahamnya. Bahkan satu tahun berlalu, kisah ini selalu diceritakan oleh Nabi ﷺ kepada para tamu yang datang kepada beliau.
Habib Ali Al Kaff kemudian melanjutkan kisah lainnya. Satu waktu delegasi dari beberapa negara yang ingin mengenal Islam datang kepada Nabi ﷺ. Mereka mengendarai unta yang paling mewah dan besar. Unta-unta itu diikat oleh para tamu di depan rumah Rasulullah ﷺ. Disana terdapat Sayyidina Hamzah, Sayyidina Umar Ibn Khattab, Sayyidina ‘Ali Ibn Abi Thalib dan Sayyidina Saad bin Abi Waqqash sedang berjaga.
Kemudian datanglah Nu’aiman, Sayyidina Hamzah kemudian berkelakar, “Nu’aiman lihatlah unta-unta yang datang ini, besar-besar.”
“Iya,” sahut Nu’aiman. “Kalau dipotong pasti banyak dagingnya enak buat disantap.”
Lantas Sayyidina Hamzah bertanya, “Apakah kamu berani memotongnya, Wahai Nu’aiman?”
“Saya berani saja, asal kalian tidak bilang kepada Rasulullah ﷺ,” jawab Nu’aiman.
Sayyidina Hamzah menganggap obrolan itu seumpama angin lalu, kemudian ia sibuk mengobrol dengan sahabat Nabi ﷺ yang lain. Tiba-tiba datanglah seruan dari Nu’aiman, “Wahai Hamzah, ini untanya sudah saya pisahkan kepala dengan badannya. Sekarang saya mau pergi sebentar, nanti kalau Rasulullah ﷺ datang jangan beritahu tahu keberadaan saya. Kalau keadaan sudah aman untanya kita santap sama-sama.”
Nu’aiman kemudian kabur, bersembunyi dari Rasulullah ﷺ. Tak berapa lama keluarlah tamu Rasulullah ﷺ, mereka hendak pulang. Terkejutlah mereka demi menyaksikan keadaan untanya. Rasulullah ﷺ menatap kepada para sahabat yang sedang berjaga. Mereka kemudian hanya bisa berkata, “Nu’aiman, ya Rasulullah.”
“Wahai, Umar. Kamu ambil uang dan berikan dua kali lipat darinya,” pinta Rasulullah ﷺ.
Akhirnya para tamu Rasulullah ﷺ, pulang dengan membawa unta baru dan sejumlah harta.
Dalam pelariannya, berjumpalah Nu’aiman dengan Al-Miqdadul Aswad yang sedang menggali sumur, seorang sahabat ahli badar. Setelah memuji-muji Al-Miqdadul Aswad ia kemudian meminta izin untuk bersembunyi di sumur karena sedang dikejar-kejar orang jahat.
“Wahai, Miqdad. Kamu berjanji tidak akan memberitahukan keberadaan saya, kan?”
“Iya,” sahut Al-Miqdadul Aswad.
“Termasuk Rasululullah ﷺ apabila ia bertanya?” tanya Nu’aiman.
Al-Miqdadul Aswad sedikit ragu namun kemudian mengiyakan karena tempatnya terlalu jauh untuk dikunjungi Rasulullah ﷺ, hampir keluar kota Madinah.
Tak berapa lama datang Rasulullah ﷺ kepada Al-Miqdadul Aswad. Ditanyakanlah keberadaan Nu’aiman. Al-Miqdadul Aswad sudah kadung janji dengan Nu’aiman, namun ia takut berbohong kepada Rasulullah ﷺ. Akhirnya Al-Miqdadul Aswad menunjuk ke dalam sumur seraya berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ mata saya tidak melihat Nu’aiman.”
Setelah dilihat ke sumur nampaklah Nu’aiman yang sedang bersembunyi. Ketika ditanyakan perihal kenapa ia memotong unta tamu Rasulullah ﷺ. Ia menunjuk kepada para sahabat yang ada di samping Rasulullah ﷺ. Sementara Rasulullah ﷺ sibuk dengan para sahabat yang ditunjuk Nu’aiman, Nu’aiman kemudian kembali lari meninggalkan Rasulullah ﷺ dan para saahabat.
Demikian sejumlah kisah tentang Nu’aiman seorang sahabat yang dikatakan selalu membuat Rasulullah ﷺ tersenyum meski beliau dalam keadaan bersedih. Kisah-kisah ini menjadi penghias keindahan hidup Nabi ﷺ dan penghibur bagi kita di akhir zaman dan tentunya menyiratkan ibrah yang tak ternilai. (Sumber Cerita: Youtube Masjid Raya Bintaro Jakarta)
