
Tampilan hidangan yang tampak manis di depan tidak otomatis menyajikan kelezatan. Demikian pula manusia, kerap kali tampilan necis dan rupawan tak berhimpun dengan tutur yang manis dan menawan.
Haruskah selalu memilih kata dalam bertutur? HARUS. Menyajikan kata seumpama menyajikan makanan. Kita harus pandai menakar agar sajian disukai oleh umumnya lidah manusia.
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’[17]: 36)
Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)
Ada sebuah kisah motivasi. Seorang anak mengadu kepada ayahnya tentang dirinya sendiri yang tak mampu menahan lisannya untuk marah serta berkata tidak baik. Hal ini telah meresahkannya karena membuat orang-orang di sekitar menjauhinya. Lantas, ayahnya memberikan saran agar setiap ia marah dan berucap tidak baik, ia tancapkan sebuah paku di pagar kayu rumahnya.
Ia kemudian kembali ke rumah dan mengikuti saran ayahnya. Setelah berlalu beberapa waktu, ia berkunjung lagi ke tempat ayahnya dan menyampaikan bahwa pagar rumahnya sudah dipenuhi paku. Tidak ada lagi bagian yang bisa ditancapi paku. Ayahnya kali ini memberikan saran agar sejak hari itu ia berusaha menahan marah dan menjauhi ucapan tidak baik sekuat tenaga, dan setiap ia berhasil, ia cabut satu paku yang tadi sudah ditancapkan.
Waktu demi waktu berlalu, sampailah satu hari paku di pagar kayu rumah anak tadi sudah habis tercabut. Orang-orang yang beberapa waktu lalu menjauhinya satu persatu mulai nyaman bergaul dan kembali dekat dengannya. Senang tiada terkira ia kembali ke rumah ayahnya mengabarkan hal tersebut.
Ayahnya tersenyum bahagia dan kemudian memberikan nasihat, “Pahamilah, Nak. Bahwa lisan itu lebih tajam dari paku-paku yang kemarin kau tancapkan di pagar rumahmu. Sekarang perhatikan pagar rumahmu, berlubang dimana-dimana. Itulah gambaran ketika kita tidak pandai memilih kata-kata terbaik untuk diucapkan kepada orang lain. Meski hari ini paku itu sudah tercabut semua, tapi bekasnya masih nampak dimana-mana.”
Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa manusia mengucapkan kata 7.000 sampai dengan 20.000 sehari. Bukan jumlah yang sedikit, kan? Sayang rasanya kalau kita tidak menempatkan diksi terbaik yang bermanfaat di atas lisan bahkan juga tulisan. Mari berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan lisan dan tulisan kita dari perkataan buruk dan sia-sia. Sediakan diksi terbaik buat keluarga serta kerabat dan orang lain.
