
Ibnu Katsir berkata, “Pakaian Imam Ahmad bin Hanbal pernah dicuri ketika beliau berada di Yaman. Saat itu, beliau berada di kediamannya sementara pintu rumahnya dalam keadaan tertutup.”
“Para sahabatnya merasa kehilangan dirinya. Mereka pun datang kepadanya dan menanyakan berita tentangnya, ia memberitahukan kondisinya kepada mereka. Usai mendengar, mereka menawarkan emas, akan tetapi ia tidak mau menerimanya kecuali hanya satu Dinar, dengan balasannya ia menuliskan hadits untuk mereka.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 10/329)
Saya sering dibuat terkagum-kagum dengan sifat yang dimiliki oleh ulama terdahulu. Meski mereka ulama tersohor pantang bagi mereka menengadahkan tangan kepada manusia. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Hari ini, manusia yang berlimpah kekayaan pun tak segan menghinakan diri demi mendapatkan bantuan sekarung dua karung beras dari pemerintah. Mirisnya, mereka yang benar-benar membutuhkan malah akhirnya tak mendapatkan haknya.
Berlawanan sekali dengan perilaku kaum anshar di zaman Rasulullah ﷺ. Mereka lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan mereka sendiri, padahal mereka pun membutuhkannya. Allah ﷻ kemudian mengabadikan perilaku mereka yang luar biasa ini dalam Al-Quran
وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَة
“… Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan…” (QS. Al-Hasyr[59]:9)
Pernahkah mendengar kisah Abdurrahman bin Auf saat hijrah ke Madinah? Dia datang tanpa bekal sedikit pun. Kekayaan yang dimilikinya hanyalah pakaian yang melekat di tubuhnya. Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakan Abdurrahman dengan Sa’ad bin Rabi, seorang hartawan yang juga sangat dermawan di Madinah. Ia bersedia memberikan modal yang besar kepada Abdurrahman bin Auf. Bahkan, ia menawarkan perempuan di antara keluarganya untuk dijadikan istri.
Tapi, kemudian Abdurrahman bin Auf hanya meminta ditunjukkan pasar agar ia bisa memulai usahanya sendiri.
Sudah saatnya hati ini dibenahi agar selalu merasa cukup dengan rezeki yang telah dikaruniakan oleh Allah ﷻ dan semampu mungkin bisa mendahulukan keperluan orang lain daripada kepentingan pribadi.
