Skip to content

Desrianza

Pelajar Cinta | Penari Kata | Perindu Surga

Menu
  • Home
  • Ahlan
  • Ngerti Pajak
  • Follow TikTok!
  • Tentangku
Menu

Romansa Timur dan Barat

Posted on September 11, 2026September 12, 2026 by Desrianza

Malam-malam di rantau selalu menjadi malam yang terasa panjang. Waktu terasa berjalan terlalu lambat. Kursi di pelataran Indomaret selalu menjadi tempat kesayangan untuk sekadar bengong sembari menjemput kantuk. Kalau ada hal yang mungkin harus kutulis dalam senarai kesyukuran, keberadaan kursi Indomaret pasti masuk sebagai salah satunya.

Seperti biasa, jumat malam selepas isya, aku mencari kursi Indomaret yang kosong sembari menunggu cucian yang sedang ada di mesin “Laundry Koin” seberang Indomaret. Sayang, malam itu hanya tersisa satu kursi di sudut paling ujung.

Ya sudahlah pikirku, mumpung belum ada yang duduk. Kuletakkan kopi panas Point Indomaret di atas meja bulat itu, kutarik kursinya dan langsung menyelonjorkan kedua kaki ke depan. Kuletakkan kepala di atas sandaran kursi sambil menatap langit ibukota, langit yang tak ada indah-indahnya. Langit dengan residu polusi dari pabrik-pabrik sekitar. Bulan pun ogah menampakkan eksotikanya. Bintang apa lagi, lebih mirip senter yang sudah mau habis daya baterainya.

“Bang, apakah aku berdosa?” tetiba aku mendengar ucapan itu.

Aku celingak-celinguk mencari sumber suara.

“Bang…?” perempuan yang sedari tadi duduk di samping meja yang sama, ternyata menyapa.

“Oooh… Maksudnya aku…?” sambil menunjuk diri sendiri, aku coba memastikan perempuan itu menyapaku.

“Iya, Bang.. Apakah aku salah dan berdosa?” ia kembali mengulang pertanyaan yang sama.

Aku coba mencerna maksud hati dari perempuan di sampingku. Mulai kuperhatikan, tatapannya kosong, raut mukanya tampak begitu galau, seorang perempuan timur yang cukup menawan, dengan rambut khas timur dan warna kulit yang lebih terang dari kebanyakan perempuan timur.

“Sebenarnya, aku bukan hakim yang layak memutus kamu salah atau berdosa.”

“Sungguh, aku tidak tahu, apa yang kemudian membuatmu sepertinya yakin aku layak menjadi orang yang dapat menerima pengakuan dosamu?” tanyaku.

“Apakah karena jenggot ini?” aku tersenyum mencoba mencairkan suasana.

“Bahkan jenggot ini mungkin sekadar topeng yang menyimpan banyak kemunafikan, bahkan jenggot kambing pun bisa jadi lebih panjang dan hati kambing pasti lebih tulus.”

Perempuan itu tersenyum tipis, tapi mendung di wajahnya masih belum berlalu sempurna.

“Abang bisa memanggil saya Maria, saya dari Serui, Papua,” ia akhirnya memperkenalkan diri.

“Panggil aku Rian, Maria. Aku dari Barat,” aku ikut mengenalkan diri.

“Abang dari Barat? Blasteran gitu? Eropa mana?” antusias sekali ia bertanya.

“Eh.. iya.. West Sumatera,” ujarku sembarangan.

Hampir saja tinju timurnya melayang ke mukaku, itu bayangan dramatis saja yang kubuat-buat sendiri. Nyatanya ia tergelak, namun tak begitu lepas.

“Apa cerita yang sedang ada di pundakmu, Maria?” aku kembali menyelisik.

Maria kembali terdiam, menarik nafas panjang, kemudian menghempaskannya ke langit-langit malam.

“Ini tahun pertama saya di rantau. Tahun yang terasa begitu berat. Suami saya masih di Serui, Papua. Ada karir yang sedang saya kejar di sini, begitu juga suami sedang menjalin mimpi-mimpinya sebagai PNS di daerah.”

Maria mengambil jeda lagi beberapa saat.

“Awalnya semua tampak baik-baik saja, sampai kemudian aku mengenal Adam, rekan kerjaku dari Gayo, Aceh,” lanjutnya.

“Kami kemudian menjadi terlampau akrab, Adam pun menunjukkan perhatian yang lebih, perhatian yang sebenarnya sering saya nantikan dari suami saya di Serui. Suami saya terlampau cuek, kadang terpikir bahwa ia tak benar-benar mencintai saya.”

“Hubungan saya dan Adam ya sebatas itu saja, tidak lebih. Kami saling menyukai dan saling menunjukkan perhatian. Walau kami sadar ada banyak dinding yang tak bisa kami dobrak semena-mena. Ia punya istri, saya punya suami. Ia dengan tuhannya, aku dengan tuhanku.”

“Saya bingung, Bang”.

“Tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan ini? Saya kadang merasa berdosa dengan suami tapi di lain sisi saya juga butuh diperhatikan, seperti yang ditunjukkan Adam. Sesekali saya mau suami tanya ke saya, apa kamu sudah makan? Gimana kerja kamu hari ini? Kamu capek? Kamu sehat, kan?”

“Sesekali saya ingin ia kasih kejutan, membelikan makanan atau bunga misalnya, meski dari Serui, toh sekarang semua sudah bisa dipesan online.”

“Sesekali saya ingin mendengar ia mengatakan bahwa ia mencintaiku, menyemangatiku agar aku kuat menjalani hari-hari jauh darinya.”

Maria tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Manusia kepo di sebelah meja kami mulai melepas earphone, mencuri-curi dengar demi melihat Maria menangis.

Aduh, Tuhan. Aku jadi serba salah, berasa aku yang sedang diminta pertanggungjawaban, entah atas apa. Ingin rasanya kututup mukaku dengan selimut tapi selimutnya masih di mesin laundry.

“Maria maaf kamu lebih butuh tisu apa mantel hujan?” aku jadi gagap sendiri.

“Mantel hujan?” tanya Maria kebingungan.

“Ia soalnya khawatir bajumu jadi basah kena hujan air mata,” aku menceracau.

Bogem khas timur kembali melayang ke mukaku, itu bayangan dramatis lagi yang kubuat-buat sendiri. Nyatanya ia tersedak mendengar kerandoman ucapanku.

“Maria, please listen to me!” kataku kayak orang bener. Sekonyong-konyong kuseruput kopi yang dari tadi kudiamkan. Oh, Tuhan. Kopi ini ternyata masih cukup panas, lidahku berasa terbakar, aku berhahihu sendiri mendinginkan lidah. Hal itu kembali mengundang gelak Maria. Sepertinya ia menyesal memilih aku sebagai tempat curhatnya. Ia merasa justru sedang menonton srimulat. Berharap mendapat pencerahan malah bikin tambah kelam.

“Sepertinya kalian bertemu di saat yang salah, saat hati begitu jauh dari rumah”.

“Cakeeep…!”

“Iiiis, Maria. Ini bukan pantun..!”

“Lantas?”

“Sambutan Pak RT..!”

“Denger dulu makanya..”

Maria malah cengengesan.

“Maria, kalian semestinya menyadari dari awal. Ada hati yang harus kalian jaga, ada janji yang lebih dulu terucap di sana, dan kalian sedang di jalan hidup yang tidak sama.”

“Bisa jadi Tuhan izinkan kalian bersua, bukan untuk memiliki, bukan untuk hidup bersama, tapi hanya untuk saling menyembuhkan luka yang kalian bawa dari bahtera yang berbeda.”

“Mungkin yang terbaik saat ini, Maria dan Adam harus saling melepaskan, pergilah meski itu sulit untuk dilupakan, agar esok tak ada yang terlukai.”

“Andai esok kalian saling merindu tak usah saling mencari, lirihkan saja doa, titipkan rindu dan cinta itu kepada Tuhan, agar Tuhan meletakkan keduanya di tempat yang benar, bukan di tempat kotor dan terlarang.”

“Maria, setialah dengan cintamu, Adam pun semoga setia dengan cintanya. Hakikat cinta, sejatinya hanya kepada Tuhan. Cinta kepada selain itu adalah fatamorgana dan semu belaka.”

“Maria, jangan menunggu suami mengucap rindu tapi ….” ucapku terpotong gara-gara teriakan Mbak-mbak Laundry Koin.

“Ya sudah dulu ya, Maria. Laundryku sudah kering.”

“See you, don’t forget, I’m Rian from West ….” ucapku terpotong lagi, kali ini Mbak-mbak Laundry memanggilku dengan TOA.

Maria menggelengkan kepala melihatku bergegas ke Laundry Koin seperti dikejar debt collector. Hari ini Maria akhirnya belajar, bahwa tak perlu waras untuk menjadi bijak dan kadang masalah yang muncul itu hanya perlu ditertawakan bukan dibawa larut dalam tangis yang tak berkesudahan.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Romansa Timur dan Barat
  • Buku Catatan Hutang Abah
  • Bertahanlah Satu Hari Lagi
  • Ayah Terbaik
  • Sebait Rindu

Most Viewed Posts

  • Cinta Rasulullah ﷺ (2,314)
  • Hujan-Hujanan (1,086)
  • Memberi Jeda (1,042)
  • Ngobrol, Yuk? (966)
  • Apresiasi (960)

Categories

Monthly Archives

© 2026 Desrianza | Powered by Superbs Personal Blog theme